RADAR JOGJA – Kawasan laut sisi selatan Pulau Jawa, tepatnya perairan Jawa Timur terus dilanda gempa tektonik dalam kurun waktu belakangan ini. Catatan tertinggi adalah 13 gempa dalam waktu berurutan. Lokasi seluruh titik episentrum gempa juga saling berdekatan.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Jogjakarta Agus Riyanto memastikan fenomena alam ini normal. Titik episentrum gempa merupakan titik pertemuan dua lempeng benua. Yakni lempeng indo-australia yang menyusup masuk ke lempeng eurasia.

“Secara umum fenomena ini normal saja karena daerah pertemuan dua lempeng dan memang tempat pusat gempa. Tepatnya 200 kilometer selatan Pulau Jawa,” jelasnya, ditemui di Pendopo Parasamya Setda Pemkab Sleman, Rabu (14/10).

Munculnya rentetan gempa, kata Agus, justru pertanda baik. Stasiun Geofisika BMKG Jogjakarta sendiri mencatat setidaknya terjadi gempa tektonik di episentrum tersebut setiap harinya. Fenomena ini justru bisa mereduksi energi besar yang tersimpan. 

Munculnya gempa dipastikan masih dalam batas aman. Energi yang muncul rata-rata berkekuatan magnitudo 4 skala Richter (SR). Artinya gempa tektonik di laut lepas tersebut tak berpotensi tsunami.

“Justru bersyukur ada gempa kecil berurutan agar tak ada akumulasi energi di patahan itu yang berpotensi tsunami. Selama ini besaran magnitudo masih dibawah 4 SR. Tsunami muncul jika diatas 7 SR,” katanya.

Disinggung mengenai potensi gempa berkuatan besar atau megatrust, Agus tak menampik. Potensi ini muncul atas keberadaan lempeng indo-australia dan eurasia. Pertemuan lempeng ini membentang dadi selatan Pulau Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur. 

Walau begitu Agus meluruskan informasi yang beredar. Bahwa megatrust akan terjadi dalam kurun waktu dekat. Pernyataan ini sekaligus menjawab riset yang dilakukan oleh peneliti ITB.

“Jadi itu sifatnya kajian bukan prediksi. Skenario terburuk dua segmen di Jawa Barat dan Jawa Timur bergerak bersamaan. Skenario permodelan menghasilkan gempa 9,1 SR dengan ketinggian tsunami 20 meter,” ujarnya.

Sayangnya kajian ini dimaknai berbeda oleh masyarakat. Kepanikan muncul karena menanggap kajian penelitian sebagai prediksi. Disisi lain hingga saat ini belum ada alat yang bisa mendeteksi gempa jauh hari sebelumnya.

“Kalau catatan historis pernah Banyuwangi medio 1994 dan di Pangandaran medio 2006. Lalu saat bertemu pak gubernur (Hamengku Buwono X) pernah ada sejarah tahun 1800an. Sayangnya catatan itu berada di Belanda,” katanya.

Walau begitu Agus meminta masyarakat dan pemerintah memaknai secara bijak. Salah satu respon terbaik adalah menyiapkan mitigasi bencana. Tak hanya bagi masyarakat tapi juga beberapa fasilitas publik.

Salah satu catatan darinya adalah pelaksanaan mitigasi bencana di Yogyakarta International Airport (YIA). Bangunan mampu bertahan dari gempa kekuatan 8,8 SR dan ketinggian tsunami 5 meter. Hanya saja kualitas konstruksi bangunan perlu dibarengi pengetahuan mitigasi bencana. 

“Konstruksi bangunan sudah bagus tapi belum tahu apakah kuat menahan tsunami. Ruang evakuasi di lantai 2 sudah ideal, saat ada kejadian, penumpang dilarang turun. Dengan ketinggian tsunami 5 meter, radiusnya sampai 2 kilometer dari bibir pantai,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Utama