RADAR JOGJA – Pemerintah Provinsi DIJ  bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) meluncurkan Jogja ProvCSIRT. Manajemen sekuriti ini berupa sebuah set dari banyak fungsi yang melindungi jaringan dan sistem telekomunikasi dari akses-akses ilegal, seperti peretasan dan pembobolan situs. 

Di acara peluncuran, Kepala Diskominfo DIJ  Rony Primanto Hari membacakan sambutan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X mengenai penyimpanan data yang dulu dilakukan secara fisik, kini tersimpan secara elektronik sabagai Big Data.

“Transaksi, korespondensi, atau percakapan yang biasanya harus dilakukan secara langsung, saat ini pun sudah dapat dilakukan tanpa perlu beranjak dari tempat duduk,” jelasnya, Rabu (14/10).

Sebab, lanjut dia, seiring berkembangnya penggunaan perangkat elektronik dalam komunikasi, informasi dan data juga kian rentan terhadap ancamannya.

Oleh karena itu keamanan situs pemerintah harus terjaga baik demi akuntabilitas dan kepercayaan publik terhadap substansi informasi yang disediakan. Sebab, jika tampilan situs dirusak, layanan publik terhenti dan informasi sensitif jatuh ke tangan pihak yang salah, bisa berakibat serius

Jogja ProvCSIRT sendiri bekerja dengan mengedepankan semangat kolaborasi dan gotong-royong lintas instansi pemerintah di DIJ. Di antaranya Pemprov DIJ, Pemerintah Kabupaten/Kota se-DIJ, Korem 072/Pamungkas, Polda DIJ dan Kejati.

“JogjaProvCSIRT dibentuk sebagai wujud komitmen Pemda DIJ dalam melindungi data dan informasi yang dikelola Pemerintah,” ujarnya.

Sementra itu Kepala BSSN RI Hinsa Siburian mengatakan, ketika masyarakat menghidupkan gawainya, masuk ke ruang siber yang hampir sama dengan kehidupan nyata, misalnya dunia ekonomi digital fintech dan startup. 

“Di sana ada kesejahteraan dan kemungkinan ada ancaman yang bisa membahayakan kehidupan bangsa,” ujarnya.

Di sisi lain dunia siber juga bisa memberikan dampak buruk bagi negara. Misalnya adanya serangan yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur data dan dampak Positional Asset berupa informasi yang begitu banyak sehingga bisa mempengaruhi ide, pendapat, motivasi orang sehingga bisa menjadi emosional, lalu menimbulkan massa yang beringas dan huru-hara massa.

“Saat ini ada 410 juta serangan siber ke Indonesia dari data pusat keamanan siber kita per September. Inilah bahaya-bahaya yang harus kita waspadai di masa kini atau mendatang,” jelasnya.

Hinsa mengibaratkan CSIRT seperti pasukan siber yang akan menjaga keamanan di ruang siber dari ancaman-ancaman yang mungkin terjadi. 

“Kita punya kekuatan di ruang siber jogja yang disebut CSIRT ini untuk mengamankan Indonesia, khususnya di daerah Jogjakarta,” tandasnya. (sky/tif)

Jogja Utama