RADAR JOGJA – Akselerasi belanja pemerintah dinilai penting sebagai stimulus fiskal, guna menggerakkan pertumbuhan ekonomi di triwulan IV/2020. Di DIJ, pandemi berdampak cukup besar pada perekonomian DIJ yang membukukan pertumbuhan minus 6,47% (yoy) pada triwulan II/2020. 

Hal tersebut disampaikan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X dalam Rapat Koordinasi Daerah Pelaksanaan Anggaran Tahun 2020 di kompleks Kepatihan, Jogja, Selasa (13/10).

Terkait hal tersebut, APBN akan terus difungsikan sebagai upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ini dan pemulihan, baik dari sisi penerimaan seperti insentif di bidang perpajakan maupun dari sisi belanja, baik itu belanja bansos, kementerian/lembaga maupun transfer daerah. 

“Ini dimaksudkan untuk mengembalikan konsumsi masyarakat dan mengembalikan confident investasi,” jelasnya.

Di kesempatan yang sama Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan DIJ Sahat Panggabean menyampaikan realisasi belanja Pemerintah Pusat mencapai Rp 10,04 triliun (63,16%), sedangkan belanja transfer ke daerah dan Dana Desa telah mencapai Rp10,06 triliun (86,09%). 

“Realisasi anggaran Program PEN di DIJ juga menunjukkan tren positif,” katanya.

Sebagai upaya mengakselerasi belanja pemerintah, satuan kerja diminta merealisasikan belanja untuk penanganan Covid-19 serta kegiatan yang direncanakan pada triwulan IV/2020 agar dilaksanakan secepatnya. Selain itu pelaksanaan belanja barang dan belanja modal yang menggunakan sistem pemilihan pengadaan langsung harus segera direalisasikan. 

“Pembayaran atas hak-hak kepada pegawai dilakukan secara tepat waktu, mendorong penyelesaian terhadap belanja modal di atas Rp 200 juta (pengadaan rumah dinas, rehab gedung, dan pengadaan kendaraan), serta tidak menunda pembayaran kepada pihak ketiga atas tagihan yang telah memenuhi persyaratan,” beber Sahat. (sky/tif)

Jogja Utama