RADAR JOGJA – Memasuki musim pancaroba, warga diimbau mewaspadai bencana hidrometeorologi. Yaitu cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang dapat terjadi terutama pada siang hingga sore hari dengan skala lokal.

Kepala Kelompok Data dan Informasi, BMKG Stasiun Klimatologi DIJ, Etik Setyaningrum memprakirakan awal musim hujan akan dimulai pertengahan Oktober hingga awal November. Pada pertengahan hingga akhir Oktober meliputi wilayah Sleman bagian barat dan utara, Kulonprogo bagian utara, Sleman bagian timur. Sebagian besar Bantul dan Kulonprogo bagian selatan. Sedangkan, pada awal November meliputi sebagian besar wilayah Gunungkidul dan Bantul bagian timur. “Jadi saat ini kita masih masuk periode masa peralihan atau pancaroba,” katanya Kamis (8/10).

Adapun hal-hal yang perlu diwaspadai  di masa-masa pancaroba yaitu munculnya cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang dapat terjadi terutama pada siang hingga sore hari dengan skala lokal. “Di masa pancaroba ini umumnya keadaan atmosfer cukup labil. Sehingga potensi pembentukan awan konvektif dapat terjadi,” paparnya.

Selain itu, memasuki bulan Oktober diprediksi jumlah curah hujan perdasarian akan meningkat berkisar 40-70 mm atau dasarian. Dibandingkan hujan perdasarian pada bulan September lalu. Sehingga secara iklim pada bulan Oktober ini jumlah curah hujan akan meningkat akumulasinya dibandingkan pada bulan September. “Kami himbau ke masyarakat memghadapi masa pancaroba ini waspada potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor,” tuturnya.

Selain itu juga perlu diwaspadai terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang atau roboh. “Agar tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat atau petir,” imbuhnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja melakukan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim penghujan. Kesiapsiagaan ini disiapkan hingga wilayah kampumg tangguh bencana (KTB). Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jogja, Iswari Mahendrarko mengatakan, secara berkala selalu melakukan monitoring dan perawatan alat peringatan dini Early Warning System (EWS) agar siap berfungsi saat dibutuhkan. EWS ini telah terpasang di 16 titik di pinggiran tepi Sungai Code, Sungai Winanga dan Sungai Gajahwong. “Sebanyak 15 EWS berfungsi dan satu EWS dalam perbaikan,” ujarnya.

Selain itu dihimbau pengurus di wilayah juga menyiapkan peralatan-peralatan yang dimiliki KTB dalam rangka penanganan bencana seperti kendaraan roda tiga, chainsaw, pompa, genset dan lainnya agar dapat berfungsi pada saat digunakan. Selain itu, mempersiapkan dan memperbaiki  jalur evakuasi maupun titik kumpul di masing-masing kampung. “Paling penting harus selalu melaksanakan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat terutama masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai rawan banjir untuk selalu waspada saat hujan turun,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman Henry Dharma Wijaya mengimbau untuk segera melakukan mitigasi bencana yang biasa terjadi di saat musim hujan. Seperti angin kencang, pohon tumbang, banjir, dan sebaginya. “Kalau memang ada pohon yang membahayakan segera dipangkas ranting-rantingnya, dan lain-lain,” imbuhnya.

Selain itu, Henry dan tim juga selalu memantau kondisi cuaca berdasarkan informasi dari BMKG. Termasuk juga mengaktifkan EWS. “Kalau hujan kan berpotensi banjir, kami punya di pinggir sungai dipasang sistem peringatan dini, tanah lonsor itu juga kami punya,” papar dia.

Ada beberapa titik rawan di Sleman. Saat musim hujan, yang sering ada angin kencang yaitu sekitar Sleman daerah barat seperti Sayegan, Tempel, Mlati, Sleman, Turi, Pakem, Kalasan. “Kemudian titik rawan banjir ya sekitar sepanjang sungai itu. Kalau tanah longsor itu banyak di daerah Prambanan. Makanya kami ada beberapa sistem peringatan dini untuk itu,” katanya.

Dia mengimbau, kepada masyarakat untuk lebih waspada. Jika ada pohon yang membahayakan segera untuk dikurangi rantingnya. Kemudian, tidak membuang sampah di parit atau selokan karena jika itu menyumbat saluran bisa mengakibatkan air meluap dan banjir. “Kalau pas hujan deras sebaiknya menjauh dari sungai atau jembatan yang sekiranya membahayakan,” imbaunya. (cr1/wia/pra)

Jogja Utama