RADAR JOGJA – Salah satu sumbu filosofis DIJ Panggung Krapyak didaftarkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda kepada UNESCO. Serangkaian perawatan rutin dilakukan Dinas Kebudayaan DIJ. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Sumadi menjelaskan kegiatan ini sebagai kelanjutan dari revitalisasi Pojok Beteng Lor Wetan.

“Setelah revitalisasi Pojok Beteng Lor Wetan, Masjid Gedhe Kauman dan sekarang kami lanjutkan dengan perawatan Panggung Krapyak Panggungharjo,” jelasnya, Jumat (2/10).

Perawatan yang dilakukan meliputi pembersihan tembok dari lumut dan vandalisme, pengecatan ulang, serta pengecekan sejumlah anak tangga menuju menara. Diperkirakan perawatan ini memakan waktu sekitar satu bulan setengah.

“Target kami perawatan akan selesai sekitar 45 hari ke depan, kami juga berkoordinasi dengan pihak terkait dalam perawatan cagar budaya tersebut,” lanjutnya.

Sumadi menambahkan, DIJ akan menjadi satu-satunya yang mewakili Indonesia untuk pengajuan Warisan Dunia Tak Benda kepada UNESCO. Saat ini proses verifikasi sedang berjalan.

Panggung Krapyak atau yang dikenal juga dengan Kandang Menjangan ini merupakan bangunan bersejarah yang memiliki fungsi penting di masa Kesultanan Mataram. Panggung Krapyak digunakan oleh raja-raja Mataram sebagai tempat pengintaian untuk berburu binatang, khususnya rusa atau menjangan.

“Selama ini yang kita lihat warisan budaya selalu berbentuk fisik, namun berbeda dengan DIJ. Warisan budaya ini bukan fisik, namun berupa sumbu filosofi yang imajiner dan tak kasat mata,” jelasnya. (sky/tif)

Jogja Utama