RADAR JOGJA – Pemprov DIJ belum berencana melakukan tes swab masal. Sasaran tes swab masih diperuntukan bagi  hasil contact tracing, orang dengan risiko tinggi, dan tenaga kesehatan.

“Kalau tidak risiko tinggi kami swab kemungkinan besar hasilnya tidak ada (negatif). Kalau risiko tinggi harapannya bisa segera kami ketahui,” jelas Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji Rabu (30/9).

Meskipun begitu, pemprov berkomitmen untuk terus memenuhi standar tes minimum yang ditentukan oleh World Health Organization (WHO) yakni dengan jumlah tes 1.000 per 1 juta penduduk tiap pekannya. “Kami tingkatkan supaya target WHO bisa dipenuhi. Sehingga penanganan yang konfirmasi bisa segera diatasi. Karena kalau orang ketahuan bisa lebih dini itu penyembuhan akan baik,” ungkapnya.

Menurut Aji, rata-rata jumlah tes yang diperiksa dalam sehari mencapai 800 sampel. Artinya tiap pekannya kurang lebih ada 5.600 sampel yang diperiksa. Jumlah itu dikatakan telah memenuhi standar pemeriksaan minimal versi WHO. “Penduduk DIJ itu 3,8 juta. Berarti minimal lakukan 3.800 per pekan,” katanya.

Dia melanjutkan, Pemprov DIJ tak memiliki rencana untuk menambah jumlah laboratorium pemeriksaan. Saat ini, kapasitas laboratorium dianggap masih mencukupi. Adapun terkait anggaran pengadaan bahan

dasar untuk melakukan pemeriksaan juga masih tersedia.”Yang penting kami tidak kehabisan bahan. Persoalan membeli kita masih punya dana Belanja Tak Terduga (BTT). Tetapi ketersediaan di pasar mudah-mudahan tidak terjadi kevakuman,” tegasnya.

Juru Bicara Pemprov DIJ Berty Murtiningsih menjelaskan, per (30/9) jumlah sampel yang diperiksa adalah 632 dari 586 orang. Adapun total sampel yang diperiksa hingga saat ini adalah 72.233. Sedangkan jumlah orang yang diperiksa mencapai 58.383 orang.

Berty mengatakan bahwa upaya skrining terus digiatkan kepada individu yang berisiko terpapar Covid-19. Contohnya karyawan kesehatan, sampai karyawan yang lainnya. Juga pada pasien yang akan mendapatkan tindakan medis. Lalu juga skrining di bidang lainnya yang potensi risiko tertular atau menularkan. “Jadi tidak hanya pasif menunggu sampai ada yang bergejala atau terpapar Covid ini,” ujarnya. (tor/pra)

Jogja Utama