RADAR JOGJA – Klaster keluarga penyumbang kasus positif Covid-19 di Kota Jogja dalam sebulan terakhir. Penerapan protokol kesehatan pun diminta diperkuat. Termasuk ketika berada di dalam rumah.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, terdapat sembilan keluarga yang masuk dalam kategori klaster penyebaran Covid-19 baru. Tujuh di antaranya kasus dalam satu bulan terkahir ini dan dua keluarga merupakan kasus-kasus sebelumnya. “Terakhir Lempuyangan satu keluarga yang kebetulan dapat paparan dari seorang Bapak kemudian istri, dan anak,” katanya usai menghadiri peletakan ember telur nyamuk Aedes Aegypti ber Wolbachia di Kantor Kelurahan Rejowinangun, Rabu (2/9).

HP menjelaskan ini adalah fenomena karena sebagian besar kasus ditemukan merupakan orang tanpa gejala (OTG). Sehingga, orang yang paling rentan terkena paparan memang di dalam keluarga. “Karena di keluarga tingkat penerapan protokol Covid-19 sangat rendah setiap hari kan mereka berinteraksi. Maka wajar kalau kemudian banyak dalam satu keluarga yang kena,” ujarnya.

Dia membenarkan ada kasus baru di Lempuyangan merupakan pedagang kelontong yang meninggal dunia akibat¬† Covid-19 pada 26 Agustus lalu. Hasil konfirm positif keluar pada 29 Agustus. Setelah sebelumnya dilakukan rapid test dan rawat inap karena terdapat gejala demam, batul dan sesak nafas serta keringat dingin. Maka sejak 30 Agustus langsung dilakukan swab test kepada empat orang anggota keluarga intinya. Hasilnya dua orang terkonfirmasi positif dan satu orang negatif serta satu lainnya menunggu hasil.¬† “Keluarga diketahui positif kemarin sore (1/9). Saat ini kami lakukan penelusuran atau tracing terutama terkait riwayat interaksi dan mobilitasnya,” jelasnya.

Saat ini warung kelontong sudah ditutup sementara untuk sterilisasi dan kebutuhan tracing secara maksimal. Pun secara otomatis, pembeli harus melakukan isolasi mandiri bagi yang pernah membeli di kelontong tersebut. Sembari menunggu hasil proses tracing. Pun klaster soto lamongan yang juga penularan terjadi dalam keluarga serta lingkungan kerja terdapat penambahan dua kasus positif. Penambahan dua positif tersebut dari tambahan lima yang diperiksa merupakan tracing dari kasus 10 yang ditemukan positif dari 19 swab yang dilakukan dari seorang pedagang soto. “Sekarang totalnya ada 13 positif ditambah pedagang soto dan penularan masih dalam keluarga,” sambungnya.

Karena itu, momentum perpanjangan tanggap darurat hingga 30 September ini pemkot Jogja mendorong masyarakat agar protokol Covid-19 bisa dijalankan lebih ketat. Karena, dimungkinkan virus tersebut ada pada orang-orang tanpa bergejala atau orang sehat. Di samping itu melakukan tracing dam mem-blocking terhadap kasus-kasus yang sudah ada agar tidak terjadi penyebaran yang lebih luas. “Masa ini masa lebih berbahaya daripada masa sebelumnya. Karena menghadapi orang-orang yang nampaknya sehat tapi sebenarnya membawa virus,” imbuhnya.

Ahli Epidemiologi UGM, Riris Andono Ahmad mengatakan tidak ada cara lain pengendalian dan pencegahan penularan di dalam keluarga selain dengan menerapkan protokol Covid-19. Ada istilah ventilasi, durasi, dan jarak (VDJ). Tiga ini yang dapat menyebabkan dosis paparan. Karena transmisi Covid-19 terjadi dengan kontak erat dan berulang. “Kalau jaraknya dekat tapi kemudian ventilasinya bagus maka responnya lebih rendah. Kalau indoor apalagi, ventilasinya tidak terlalu baik durasinya lama dan jaraknya juga dekat. Itu resep sempurna terjadinya penularan,” paparnya.

Terlebih, jika yang terpapar sebagian besar adalah OTG. Terutama anggota keluarga yang banyak beraktifitas di luar rumah perlu mengantisipasi untuk mencegah yaitu dengan penguatan protokol Covid-19. Artinya bahwa harus diingat ada keluarga di rumah, maka penegakan protokol juga perlu dijalankan. “Sampai rumah cuci tangan, mandi itu salah satunya tapi kalau misalnya di luar tidak menegakkan protokol terus terinfeksi ya sama saja. Jadi kesadaran dari luarnya juga yang harus dijaga,” pesannya. (wia/pra)

Jogja Utama