RADAR JOGJA – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jogja masih tergolong tinggi. Untuk menekan lonjakan DBD dilakukan pelepasan nyamuk wolbachia.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Kota Jogja Endang Sri Rahayu menyebut program pelepasan nyamuk wolbachia sudah ada sejak 2015 lalu. Program tersebut setidaknya membantu penurunan kasus DBD. ”Jumlah penderitanya dibanding kabupaten lain kota termasuk rendah,” katanya saat dikonfirmasi Radar Jogja, Rabu (26/8).

Kasus DBD di Kota Jogja pada Januari hingga Agustus (26/8) 2020 tercatat 264 kasus. Dimana pada Januari terdapat 34 kasus, Februari terdapat 72 kasus, Maret terdapat 58 kasus, April terdapat 50 kasus. Kemudian, pada Mei terjadi penurunan, yakni 28 kasus, Juni ada sebelas kasus, Juli ada delapan kasus. ”Agustus ini ada tiga kasus,” terangnya.

Pada September mendatang, akan ada pelepasan nyamuk Wolbachia kembali. Yakni, di wilayah-wilayah yang belum pernah dilepas nyamuk tersebut. “Ada di sebelas kecamatan dan 29 kelurahan,” lanjutnya.

Wilayah tersebut, antara lain Pakualaman, Gedongtengen, Gondokusuman, Gondomanan, Jetis, Kotagede, Kraton, Mantrijeron, Mergangsan, Ngampilan, Danurejan, Umbulharjo.

Metode wolbachia terbukti efektif menurunkan 77 persen DBD di daerah intervensi. Penelitian yang dilakukan sejak 2017, menyasar 35 dari 42 kelurahan di Kota Jogja dengan populasi 312.000 penduduk.

Peneliti Utama World Mosquito Program (WMP) Adi Utarini menjelaskan, 12 area terpilih secara acak telah menunjukkan hasil yang signifikan. Tidak hanya di wilayah Kota Jogja, sebagian wilayah Bantul juga menjadi area terpilih. “Karena berada di dalam area ring road,” kata perempuan yang kerap disapa Uut.

Dijelaskan, 12 wilayah yang terpilih memperoleh intervensi wolbachia. Dengan meletakkan ember berisi telur nyamuk ber-wolbachia. Sedangkan 12 area lainnya adalah area kontrol yakni tanpa intervensi wolbachia. ”Setelah periode pelepasan nyamuk ber-Wolbachia, WMP Jogjakarta terus melakukan monitoring nyamuk dan melakukan pengecekan pasien demam di Puskesmas,” terangnya.

Sebanyak 8.144 pasien demam berusia 3-45 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini. Mereka diidentifikasi dari 18 Puskesmas di seluruh Kota Jogja dan sebagian wilayah di Bantul. Dari penelitian tersebut, menunjukkan dampak signifkan dari metode Wolbachia dalam menurunkan demam berdarah di wilayah perkotaan.

Sementara itu, Wakil Walikota Jogjakarta, Heroe Poerwadi menyebut dari sebelumnya ada 1.700 kasus DBD di Kota Jogja pada 2016, saat ini DBD secara bertahap menurun setiap tahunnya. Terbukti, sampai Agustus 2020, hanya ada 264 kasus DBD ditangani oleh Pemkot Jogjakarta. ”Sudah saatnya masyarakat Jogjakarta ikut menikmati penelitian ini,” jelasnya. (cr1/eno/bah)

Jogja Utama