RADAR JOGJA – Perwakilan Konsorsium Tol Jogja Solo Pristi Wahyono menuturkan ada dua teknik pembangunan ruas jalan tol Jogja-Solo. Dari total 60 kilometer, sebanyak 15 kilometer dibangun di atas tanah. Sementara sisanya atau sekitar 45 kilometer dibangun secara melayang.

Ruas tol Jogja Solo ini juga terdapat sembilan simpang susun. Di antaranya di sekitar wilayah Kartusuro, Prambanan, Purwomartani, Gamping, Sentolo, Wates dan Kulonprogo. Pembangunan sesi 1 ini melalui empat kabupaten di wilayah DIJ dan Jawa Tengah.

“Panjang jalan tol 96 kilometer, 60 kilometer di Jogjakarta dan Jateng hanya 35 kilometer. Sesi 1 berada di 4 kabupaten, sebagian Karanganyar, Boyolali, Klaten dan Sleman,” jelasnya di sela pemasangan patok tol Jogja-Solo telah dilakukan hari ini di Dusun Kadirojo, Purwomartani Kalasan Sleman, Rabu (19/8). .

Tahapan pembangunan sesi 1 diawali dari dua arah sekaligus. Tepatnya titik awal Kartusuro dan titik pemasangan patok Purwomartani. Kedua titik ini nantinya akan bertemu di wilayah Kabupaten Klaten.

Target awal pemanfaatan Trase sesi 1 adalah Juli 2023. Adapula sesi 2 yang ditargetkan pertengahan 2024. Sementara untuk sesi 3 pembangunan ditargetkan 2022. Ruas sesi terakhir ini bisa operasional akhir 2024.

“Target kami 2023 ada operasional, kemudian sesi 2 masih pertengahan 2024, lalu sesi 3 atau yang arah bandara (YIA) operasional akhir 2024,” katanya.

Metode pembangunan telah melalui kajian. Untuk pembangunan di atas tanah berada di titik Kartusuro hingga Purwomartani. Adapula titik ruas tol Gamping hingga Yogyakarta Internasional Airport (YIA). Titik tengah antara Purwomartani hingga Gamping dibangun secara melayang.

Keberadaan underpass Kentungan turut berdampak bagi ruas penopang jalan tol. Pristi menuturkan konstruksi wilayah ini lebih lebar karena penampang tidak bisa diletakan di tengah ringroad utara.

Dia tak menampik pembangunan ruas tol dalam ringroad berdampak pada mobilitas warga. Lalu lintas kawasan ini nantinya akan terganggu. Terlebih proses pembangunan mirip dengan proyek tol dalam kota di Jakarta.

“Untuk yang melalui underpass Kentungan, nanti tiangnya di pinggir tidak bisa ditengah. Sehingga nanti penopa g terlihat lebar sekali. Pasti lalulintas terganggu, tapi nanti kami coba minimalkan dampaknya,” ujarnya.

Proses pembangunan ruas tol ini juga membutuhkan perhatian lebih. Salah satunya adalah pengadaan pabrik konstruksi. Jajarannya telah melakukan survey wilayah. Untuk selanjutnya dibangun menjadi sebuah pabrik kostruksi.

“Butuh material timbunan banyak, kami sudah survey kebutuhan kemudian lokasi. Bikin pabrik sendiri butuhkan dengan volume lahan 8 sampai 10 hektar. Agar tahun ini bisa memulai tahapan konstruksi,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama