RADAR JOGJA – Akal tak sekali tiba. Tidak ada sesuatu usaha yang instan dan sempurna. Ngunduh wohing pakarti. Siapa menabur, dia akan menuai. Begitulah kiranya. Selama 20 tahun lebih mengarungi kancah politik di partai bersimbol kepala banteng itu.
Sosoknya dinilai tegas dan humble (mudah bergaul). Sesuai namanya, Joko Purnomo. Anak laki-laki yang lahir di bulan purnama dengan makna lain pemimpin yang bijaksana.
Kiprahnya di dunia politik tidak diragukan lagi. Sejak dia bergabung menjadi kader PDI Perjuangan 1987, dia mulai meniti karirnya menjadi seorang politikus. Di sinilah dia mulai menyelami makna politik. ”Politik bukan serta merta kekuasaan. Tetapi mengabdikan diri kepada masyarakat,” ungkap Joko kepada Radar Jogja di kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Bantul.
Dia menyebut, 12 tahun dia belajar memahami makna politik. Hingga 1999 dia mengajukan diri sebagai anggota legislatif DPRD Kabupaten Bantul. Dia bersyukur suara masyarakat berpihak kepadanya. Bahkan dua periode berturut-turut, dia mengemban amanah sebagai wakil rakyat dan sekali menjabat ketua DPRD Bantul pada periode 2004-2009.
Perjuangannya semakin menggebu, tatkala mendapatkan dukungan penuh partai agar mengajukan diri sebagai anggota legislatif DIJ pada 2009. Alhasil, dia pun terpilih. Dan dua periode berikutnya kembali terpilih. Terakhir 2019 lalu. Dengan perolehan suara sebanyak 24.741.
Joko mengaku, apa yang dituai saat ini bukan karena perjuangannya saja melainkan atas dukungan berbagai pihak. Bahkan dia mengaku tak memiliki banyak modal materi dalam berpolitik. Termasuk dalam pemilihan eksekutif ini. Dia meyakini, masih banyak masyarakat cerdas yang bijak, tidak melulu berorientasi pada uang. ”Tetapi seni berpolitik. Seni bagaimana berhubungan baik dengan masyarakat atau konstituen,” tandasnya.
Pria berusia kepala lima lebih itu berujar, hakikat berpolitik tidak semata-mata kekuasaan. Tetapi kekuasaan itu dapat diartikan bisa memberikan perlindungan, rasa aman, rasa nyaman dan bisa menjadi jembatan emas masyarakat ketika membutuhkan program dan kegiatan.
Memakai kemeja merah bergambar kepala banteng, Joko mengaku sangat memegang teguh aturan undang-undang, Ideologi negara dan aturan partai. Dia berprinsip, tidak akan mencari kekayaan di jalur politik ini. ”Tetapi mausiawi orang bekerja di manapun tetap membutuhkan dan mengharapkan sesuatu. Kalau bicara materi, cukup sajalah saya. Cukup bagaimana bisa memberikan kehidupan untuk keluarga,” bebernya.
”Kalau orang Jawa bilang, cukup sandang, pangan lan papan. Itu akan membuat kita tidak gegemongso atau merasa kurang terus. Le nglakoni iku kepenak,” imbuhnya. (din/er)

Jogja Utama