RADAR JOGJA – Presiden RI Joko Widodo tahun ini kembali berkurban di wilayah DIJ. Tahun ini hewan kurban yang dipilih berupa seekor sapi dari peternak di Karangasem, Argomulyo, Sedayu, Bantul. Sapi berjenis Simental dengan bobot 9,3 kuintal. Sapi tersebut bernama Gombloh.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Gombloh tampak tenang, saat sang pemilik, Rika Daru Efendi menepuk-nepuk punggungnya. Bahkan kemudian menaikinya. Dibandingkan sapi lainnya, di peternakan Rika, Gombloh tampak paling berbeda. Warnanya cokelat. Badannya juga paling besar dibandingkan sapi lainnya.

Tak heran jika Gombloh terlihat paling besar dibanding lainnya. Selain karena jenis sapi Simental, yang memang dikenal jenis monster, pakannya pun banyak. Gombloh merupakan sapi favoritnya. Saking sayangnya, Rika tidak pernah mematok jumlah pangan sapi jantan 3,5 tahun itu. Jika dirata-rata, Gombloh menghabiskan empat ember kombor per hari. Komposisi kombor terdiri dari ampas tahu, polar, saprofit, dan vitamin mineral. “Dengan campuran mayoritasnya kulit kacang hijau,” jelas Rika saat saat ditemui di kediamannya Rabu (15/7).

Kendati begitu menyayangi Gombloh, Rika tetap merasa sangat senang. Sapi peliharaannya menjadi sapi pertama asal Bantul yang dibeli oleh Presiden sebagai hewan kurban. “Menurut Diperpautkan, baru Gombloh (sapi asal Bantul) yang dibeli presiden,” ucapnya, lantas menyebut Gombloh akan disembelih di Gedung Agung Jogjakarta. Jika tidak di Kalibawang, Kulonprogo.

Pria 27 tahun itu juga menyebut, Gombloh juga sempat menjadi incaran abdi dalem untuk dibawa ke Keraton Jogjakarta. “Minggu depan staf dari kepresidenan datang, sekaligus menyerahkan uangnya,” ucapnya meyakinkan.

Ayah satu orang putra itu pun menduga, sapi kesayangannya diketahui oleh staf kepresidenan setelah mengikuti kontes di Pasar Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Dalam kontes tiga bulan lalu itu, Gombloh hanya menyabet juara kelima. Dan rencananya, Gombloh akan diikutsertakan lagi dalam kontes sapi di Jawa Timur.

Namun, rencana itu urung. Sebab mantri yang sekampung dengan Rika justru melaporkan keberadaan Gombloh kepada Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul. Alhasil, Rika pun harus rela melepas Gombloh dengan harga Rp 87 juta. “Saya itu, sudah sudah mengurus Gombloh 2,5 tahun,” ucapnya seraya menepuk-nepuk punggung Gombloh yang ditungganginya supaya tenang.

Tapi bagaimana asalnya sapinya itu dinamai Gombloh? Rika mengaku, tidak sembarangan menamai sapinya. Nama tersebut dipilihnya sebagai sebuah bentuk harapan dan doa. “Kata gombloh itu berasal dari Bahasa Jawa, artinya giblah-giblah, gede, kekar, dan besar,” ucap Rika sambil menahan tawa.

Terpisah, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Diperpautkan Bantul Joko Waluyo mengungkap, dinasnya diminta mencari sapi dengan bobot minimal delapan kwintal. Setelah melakukan survei, didapatlah tiga calon sapi yang layak, yaitu di Sedayu, Pajangan, dan Pleret. Balai Besar Veteriner Wates, Kulonprogo pun melakukan tes kesehatan dan bobot dari ketiganya. “Kemudian terpilihlah sapi yang di Sedayu,” paparnya. (pra)

Jogja Utama