RADAR JOGJA – Memasuki tahun ajaran baru 2020/2021 pembelajaran jarak jauh secara online masih diberlakukan. Meski sudah memasuki pada masa tatanan normal baru.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja Budi Santoso Asrori mengatakan tahun ajaran baru dimulai Senin (13/7). Disdik masih menggunakan sistem belajar jarak jauh atau di rumah. Menurutnya, sebelumnya alasan daring agar sing penting bocah ora metu-metu (agar anak-anak tidak keluar rumah, Red). Sekarang belajar daring ini diseriuskan lagi. “Karena jangka waktunya belum tahu sampai kapan,” katanya kemarin (10/7).

Budi menjelaskan, belajar daring pada tahun ajaran baru ini harus tetap menjaga kualitas pendidikannya. Salah satunya harus ada kriteria ketuntasan minimal (KKM). Seperti materi-materi yang dibuat harus tersampaikan minimal 70 persen ke siswa. Terkait dengan ketercapaian materi oleh siswa dengan belajar daring ini Disdik sudah berkoordinasi dengan pengawas dan sekolah berkaitan dengan parameternya. “Memang kita pilahi nanti harus ada hal-hal atau materi yang wajib disampaikan ke siswa targetnya sekitar 70 persen itu,” ujarnya.

Dikarenakan belajar daring dilakukan setiap sekolah dengan berbagai multimedia, Disdik sudah mempersiapkan berbagai hal terkait sistem materi pembelajaran dengan tanpa meninggalkan segi kualitas pendidikannya. “Misal untuk SD dan SMP sudah menyusun mana-mana materi esensial yang bisa didaringkan dan mana yang tidak bisa,” jelasnya.

Materi yang tidak bisa didaringkan terpaksa bisa ditunda pelaksanaannya. Seperti materi tidak esensial, karena ada keterbatasan-keterbatasan yang tidak bisa dikomunikasikan secara langsung. Seperti misalnya pelajaran menyanyi, olahraga dan lain-lain yang tidak bisa dipantau. Namun materi esensial tetap harus melalui daring. Pun MPLS bagi siswa yang baru masuk juga melalui daring. “Yang jelas bagaimana kita akan mengejar target akademik dalam masa pandemi ini,” sambungnya.

Termasuk juga Disdik akan melakukan pemetaan terhadap kondisi orang tua, wali murid berkaitan dengan ketersediaan sarana prasarana yang dimilikinya.
Adapun, wacana aplikasi baru yaitu Unison yang akan digunakan sebagai media belajar daring yang interaktif masih pada tataran uji coba. Dan belum dimassalkan. Dari segi sarana prasarana di setiap sekolah sudah memadai memiliki WiFi. “Problemnya ketersediaan sarpras di rumah siswa yang tidak mempunyai alat pendukung. Kemarin juga sudah diaplikasikan pertama di Dinas, masukan dari guru bagaimana masalah teknis materi-materinya,” tambahnya.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan perkembangan kasus Covid-19 di Kota Jogja menjadi pertimbangan masih dilaksanakannya belajar daring ini. “Melihat perkembangan kasus memang masih naik turun. Tahun ajaran baru, masih lanjut sementara daring,” katanya usai Pencanangan Program Ketahanan Pangan Bagi Perempuan Disabilitas, Lansia dan Pendamping serta Penyaluran Bantuan Non Tunai dalam Tanggap Covid 19 di E Warung KUBE Jasa PKH Danurejan kemarin (10/7).

Plt Kepala Disdik Sleman Arif Haryono menjelaskan, pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan tetap dilakukan mengingat status Sleman yang masih dalam masa tanggap darurat Covid-19 sampai 31 Juli mendatang. Kebijakan tersebut juga berlaku bagi wilayah yang saat ini berzona hijau.

Arif mengaku, saat ini pihaknya masih melakukan evaluasi pembelajaran daring. “Desain akan ditetapkan untuk mengambil satu kebijakan agar anak melakukan pendidikan dalam jaringan (daring) secara efektif,” kata Arif kemarin (10/7).

Menurut Arif, hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan kebijakan adalah akan dipilihnya kompetensi dasar esensial yanh harus disampaikan kepada siswa secara daring. Selain itu, ringkasan materi juga harus diperhatikan dalam penyampaian pembelajaran daring.

Nantinya, jadwal pembelajaran akan diatur seperti saat tatap muka. Hanya saja waktu akan lebih dipadatkan. “Tidak usah 45 menit setiap jam mata pelajaran, namun 30 atau 35 menit,” tambahnya.

Untuk memudahkan siswa, setiap jam pelajaran akan dibuatkan resume setiap materi. Hal ini dilakukan agar penyampaian ke siswa lebih mudah untuk melaksanakan pembelajaran di rumah dengan poin-poin yang ada. “Tidak harus tujuh jam pelajaran dibuat resume,” jelas Arif.

Jika keadaan dirasa aman, pihaknya segera melakukan pembelajaran tatap muka agar pembejaran bisa lebih efektif. Tentunya, dengan menjalankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Jika pembelajaran tatap muka berlaku, kemungkinan kebijakan yang akan diterapkan adalah maksimal siswa yang masuk hanya 50 persen. Berlaku selama enam hari, dan akan bergantian dengan siswa lain di minggu berikutnya. “Dan saat istirahat, guru akan mengawasi siswa. SOP terkait daring dan nantinya pada saat bisa melaksanakan tatap muka dengan penyesuaian masih disusun,” ungkap Arif. (wia/eno)

Jogja Utama