RADAR JOGJA – Rencana pembangunan jalan tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo bakal segera direalisasikan. Sejalan dengan itu, pembangunan jalan itu harus disinergikan dengan program pemululihan ekonomi akibat Covid-19 di DIJ.
“Jangan sampai jalan sendiri-sendiri tanpa ada sinergi,” pinta Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana kemarin (10/7).

Dikatakan, pembangunan jalan tol merupakan proyek nasional. Diharapkan proyek tersebut secara signifikan membantu upaya pemulihan ekonomi di DIJ. Gugus tugas penanganan Covid-19 atau Pemprov DIJ perlu berkoordinasi dengan pelaksana proyek pembangunan jalan tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo. “Upaya membangun sinergi bisa dirancang sejak awal secara lebih detail,” desaknya.

Huda mengingatkan, harus diantisipasi sedini mungkin kedua kegiatan itu berjalan sendiri-sendiri. Kalau itu sampai terjadi, maka dampak positif pembangunan jalan tol bagi masyarakat DIJ menjadi sangat minimal.

“Kuncinya di sinergi dan perencanaan,” ungkapnya. Titik titik pekerjaan apa saja, lanjut dia, yang bisa disinergikan. Demikian pula dengan pelibatan pengusaha, tenaga kerja lokal, exit toll dan setting ekonominya harus dirancang sejak awal.

“Semua itu harus direncanaka agar memberikan dampak maksimal bagi recovery ekonomi DIJ. Tanpa koordinasi, kami khawatir warga DIJ hanya akan menonton saja proyek nasional berjalan. Bahkan hanya mendapatkan akibat negatifnya seperti kebisingan, kemacetan dan sebagainya,” tambah kader PKS ini.

Di samping itu, Huda mewanti-wanti agar proyek jalan tol dilaksanakan secara transparan. Sedari awal direncanakan secara baik. Termasuk sisi keuangannya. Kontraktor jangan sekedar mau menang sendiri.

Jangan sampai pengalaman buruk pembangunan fisik bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) terulang lagi. “Banyak pengusaha lokal dibayar dengan sistem tunda yang sangat lama sehingga menderita kerugian,” ingat pria yang tinggal di Sleman itu.

Masa pembebasan tanah juga perlu diperhatikan. Bangun komunikasi dengan warga secara baik. Kalau ada cagar budaya, melintasi sungai, dan sebagainya harus disikapi sesuai aturan. Secara umum, Huda menilai proses yang berjalan sampai saat ini cukup baik. “Soal mundur dari perencanaan awal itu sangat wajar. Itu karena adanya pandemi Covid- 19,” kata Huda.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIJ Krido Suprayitno mengungkapkan, pentingnya peran warga. Khususnya para pemilik tanah atau mereka yang memegang kuasa pemilik tanah saat pemasangan patok berlangsung.

“Perannya sangat strategis menyangkut letak pemasangan patok. Jangan sampai keliru atau salah karena bisa memicu terjadinya penyerobotan tanah,” ujarnya. Karena itu, partisipasi dan peran aktif warga dibutuhkan. Ini seiring dengan proses pemasangan patok yang dimulai Agustus mendatang. Pemasangan patok dilakukan usai terbitnya izin penetapan lokasi dari gubernur DIJ.

“Kami telah mengadakan penyisiran. Semua tahapan harus berjalan clean dan clear,” ungkap dia. Krido menambahkan, setelah di aula lantai III Pemkab Sleman, sosialisasi dilanjutkan ke tingkat desa.

Rata-rata sosialisas idi setiap desa yang terdampak sebanyak dua kali. Usai itu, dimungkinkan sosialisasi secara berjenjang hingga level dusun. “Kami akan bertemu dengan warga terdampak maupun pemilik lahan. Selama sosilisasi kami tetap mengacu pada protokol kesehatan,” terangnya.

Pembangunan jalan tol Jogja-Bawen melewati tiga kecamatan dan tujuh desa di Sleman. Panjangnya sejauh 7,65 kilometer. Tiga kecamatan yang dilewati mulai dari Tempel, Seyegan hingga Kecamatan Mlati.

Untuk Kecamatan Tempel melewati Desa Banyurejo dengan jumlah bidang terdampak 166 bidang, Tambakrejo (88 bidang) dan Desa Sumberrejo (12 bidang). Kecamatan Seyegan meliputi Desa Margokaton (190 bidang), Margodadi (76 bidang) dan Desa Margomulyo (106 bidang)
Kecamatan Mlati, jalur tol ini hanya melewati Desa Tirtoadi. Jumlah bidang terdampak sebanyak 277 bidang. Juga dibangun simpang susun dan titik pertemuan antara tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen. Sedangkan total bidang tanah yang terdampak pembangunan jalan tol ini mencapai 915 bidang seluas 49,6 hektere.

“Jumlah bidang ini masih tentatif, masih bisa berubah setelah dilakukan konsultasi publik,” kata Krido. Sedikitnya jumlah bidang terdampak rena jalan tol Jogja-Bawen dibangun di atas Selokan Mataram. Krido sengaja melibatkan Balai Besar Sungai Serayu dan Opak (BBWSO) karena tol Jogja-Bawen melewati atas Selokan Mataram. (kus/din)

Jogja Utama