RADAR JOGJA  Sekolah-sekolah di Bantul masih mengandalkan guru honorer untuk mencukupi kebutuhan tenaga pengajar. Jika moratorium calon pegawai negeri sipil (CPNS) diberlakukan, kebutuhan akan makin banyak.

Data di Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Bantul, ada sebanyak 574 pegawai negeri sipil (PNS) di Bantul akan pensiun tahun 2021. Tahun berikutnya, pada 2022 akan ada 549 PNS yang menyusul. Sedangkan, tahun ini menjadi puncak jumlah PNS pensiun, yaitu sekitar 600 PNS. “Rata-rata 60 persen dari angka tersebut dari tenaga kependidikan,” ungkap Kepala Sub Bidang Formasi dan Pengadaan Pegawai BKPP Bantul Jazari Hisyam, Kamis (8/7).

Akibat tidak adanya rekrutmen PNS. Jumlah tenaga pendidikan disebut Jazari masih sangat kurang. Ditambah lagi dengan besarnya jumlah tenaga pendidikan yang akan pensiun. “Bidang pendidikan akan terasa sekali, kalau tidak ada tambahan,” ujarnya.

Padahal, terdapat larangan rekrutmen honorer. Sesuai PP 49/2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dan Perjanjian Kerja. “Untuk kependidikan, itu ranah masing-masing sekolah. Kami tidak ada rekrutmen. Tapi riil di lapangan banyak sekolah yang memberdayakan honorer,” ucapnya.

Jazari menyebut, belum ada instruksi resmi terkait moratorium. Tapi dia tahu adanya pemberitaan, tidak ada rekrutmen CPNS di tahun 2020 dan 2021. “Tapi kami masih menunggu instruksi dari Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) CPNS,” tuturnya.

Untuk itu, BKPP otomatis harus memaksimalkan aparatur sipil negara (ASN) yang ada. ASN terdiri dari PNS dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul tidak memiliki kewenangan untuk melakukan perekrutan mandiri. “Rekrutmen PNS adalah kebijakan nasional,” sebut Jazari.

Untuk peserta yang lulus seleksi kompetensi dasar (SKD) 20 Februari lalu, nasibnya menggantung. Seharusnya mereka menjalani seleksi kompetensi bidang (SKB) 25 Maret lalu. Namun, akibat pandemi Covid-19, SKB urung dilakukan. “Ada 601 formasi. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Masih menunggu kebijakan dari pusat,” sebutnya. (cr2/pra)

Jogja Utama