RADAR JOGJA – Menanggapi masih banyaknya imported cases Covid-19 di DIJ, Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X) meminta warga disiplin menjalankan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Bukan hanya demi kebaikan diri sendiri tapi juga kesehatan lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ, imported cases muncul dari warga yang memiliki riwayat mobilisasi tinggi. Sayangnya kepulangan ke DIJ turut membawa Covid-19. Terutama yang memiliki riwayat berpergian dari kawasan episentrum Covid-19.

“Kami bisanya penguatan tracing, tapi ora iso melarang kamu pergi dari Jogjakarta. Saya bisanya bilang sabar ndisik, ora pergi-pergi tinggal di rumah. Tapi pulang bawa penyakit, salah satu cara ya swab dengan cepat agar tak terjadi penularan,” jelas HB X saat ditemui di Gedhong Pracimosono Komplek Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (6/7).

Keperluan swab, lanjutnya, untuk melacak persebaran kasus. Harapannya langkah medis ini dapat meminimalisir persebaran di lingkungan pasien positif Covid-19. Walau begitu kunci utamanya adalah pencegahan penularan dengan penerapan protokol Covid-19.

Disinggung mengenai sanksi bagi pelanggar protokol Covid-19, HB X tak bergeming. Menurutnya ketegasan sanksi diatur dalam aturan baku karantina. Di satu sisi, Jogjakarta belum menerapkan atau menerbitkan aturan terkait karantina.

“Sedangkan kami tidak gunakan UU Karantina. Tapi kami pelajari dulu apakah bisa memberikan sanksi kepada mereka yang tidak taat. Selama ini kami hanya bisa peringatkan,” katanya.

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini turut menyoroti kebijakan pembukaan objek wisata. Dia meminta setiap Bupati dan Wali Kota Jogja berpikir jangka panjang. Termasuk menyiapkan skenario apabila muncul kasus baru dari dibukanya objek wisata, hotel dan restoran.

Menurutnya berbicara Covid-19 tak cukup pada level pencegahan. Penerapan protokol kesehatan, lanjutnya, efektif sebagai upaya preventif. Hanya saja langkah lebih serius perlu dilakukan atas munculnya kasus baru.

HB X mencontohkan tindakan protokol terhadap wisatawan yang datang. Protokol kesehatan efektif dalam kurun waktu dekat. Sementara munculnya gejala Covid-19 terjadi dalam kurun waktu masa inkubasi.

“Tidak sekadar pintu masuk dijaga TNI Polri, Satpol PP, itu tidak. Sekarang datang lalu dithermo gun negatif tapi begitu pulang dari tempat wisata tiga hari berikutnya menderita sakit, begitu diperiksa kecenderungan positif. Bagaimana upaya tracing kalau yang datang ke tempat wisata tidak jelas siapa,” ujarnya.

Solusi yang tepat, lanjutnya, dengan menerapkan pendataan wisatawan. Caranya dengan mengoptimalkan pendataan digital setiap wisatawan yang datang ke Jogjakarta. Seluruh data terkumpul dalam bank data yang dimiliki Pemprov DIJ. Isinya nomor gawai, alamat dan nama wisatawan.

Aplikasi yang dimaksud adalah Jogja Pass milik Diskominfo DIJ. Aplikasi ini berfungsi sebagai identitas digital bagi wisatawan maupun warga yang datang ke Jogjakarta. Adapula Visiting Jogja milik Dinas Pariwisata DIJ. Fungsinya sebagai reservasi objek wisata.

“Makanya kerjasama untuk QR code itu match ke provinsi. Fungsinya tracing. Mestinya (pembukaan objek wisata) itu bertahap jangan langsung semua dibuka. Jangan sampai terjadi covid kedua kalinya. Jangan cari gampange dapat tiket, tapi pikir resikonya juga,” pesannya.(dwi/tif)

Jogja Utama