RADAR JOGJA – Persiapan operasional objek wisata, hotel dan restoran di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) mendekati final. Beberapa pengelola tengah bersiap diri dan memperbaiki ragam fasilitas agar sejalan dengan protokol kesehatan Covid-19.

Salah satu wujud kesiapan adalah adanya aplikasi Visiting Jogja. Memiliki basis android dan website, aplikasi ini terbuka untuk umum. Tak hanya kepada pengunjung objek wisata tapi juga pengelola.

“Menyikapi dawuh ngarso ndalem (Gubernur DIJ Hamengku Buwono X) boleh membuka objek wisata tapi harus lakukan beberapa hal berupa pendataan pengunjung. Ini jadi concern kami. Dua bulan lalu sudah kembangkan Visiting Jogja,” jelas Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo ditemui di Gerbang Retribusi Kaliurang Pakem, Sabtu (4/7).

Aplikasi ini mengadaptasi website visitingjogja.com. Tak hanya tampilan tapi juga ada penambahan fitur terkait dengan destinasi wisata. Penggunaan aplikasi terhitung mudah dan ramah bagi penggunanya. Pengguna cukup menginstal dan memasukan data pribadi. Selanjutnya pengunjung akan mendapatkan barcode sebagai tanda pengenal.

“Nanti kalau berkunjung cukup tunjukan barcode ke pengelola wisata. Prinsip kami jangan samlai ribet agar tidak tambah lama atau menimbulkan antrian yang panjang. Buat aplikasi yang sesederhana dan sesimpel mungkin,” katanya.

Selain terkait destinasi wisata, Visiting Jogja juga menyajikan data pengunjung objek wisatawan. Basis yang digunakan adalah reservasi sebelum berkunjung. Angka tersebut merupakan kuota untuk setiap destinasi wisata.

Wisatawan, lanjutnya, bisa melakukan reservasi jauh sebelum waktu kunjungan. Pihaknya juga telah menyiapkan solusi apabila terkendala gawai. Berupa reservasi langsung. Pendataan dilakukan setibanya di destinasi wisata. Dengan catatan masih tesedia kuota kunjungan.

 “Misalnya Kaliurang, target 50 persen kunjungan katakanlah 1000 orang. Maka ada available 1000. Saat sudah penuh maka tidak bisa diklik. Untuk pemesanan secara on site akan dibantu petugas disini,” ujarnya.

Aplikasi ini telah diujicobakan di sepuluh destinasi wisata di Jogjakarta. Hasilnya, para pengelola wisata tak keberatan atas kebijakan aplikasi tersebut. Langkah ini justru memudahkan dalam pendataan pengunjung destinasi wisata.

“Sudah uji coba di Parangtritis, Baron dan Kukup. Respon pengelola cukup mudah diimplementasikan. Lalu respon beberapa wisatawan antusias. Karena tidak harus isi satu persatu hanya satu orang penanggungjawab saja,” katanya.

Jajarannya juga terus berkoordinasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika DIJ. Kaitannya adalah sinergitas dengan aplikasi Jogja Pass. Diketahui bahwa Kominfo DIJ turut mengembangkan aplikasi serupa. Fungsinya sebagai identitas digital bagi warga maupun wisatawan.

Kepala Diskominfo DIJ Rony Primanto Hari menuturkan Jogja Pass adalah identitas digital. Berlaku wajib bagi wisatawan atau warga yang berkunjung ke Jogjakarta. Dia membenarkan keberadaan Jogja Pass dan Visiting Jogja saling melengkapi.

Rony menjelaskan Jogja Pass berfungsi tak hanya sebagai identitas digital. Dapat pula mengetahui jumlah wiatawan dalam satu lokasi yang sama. Peran secara medis dapat membantu upaya tracing kasus Covid-19 oleh Dinas Kesehatan. Tentunya apabila ada temuan kasus positif Covid-19.

“Visiting Jogja membaca ID dari kita. Urutannya Jogja Pass sebagai ID lalu Visiting Jogja untuk pesannya (destinasi wisata). Disamping membuat aman juga mendata. Termasuk adanya kerumunan,” ujarnya.

Pihaknya juga menyiapkan sejumlah skenario. Salah satunya adalah koneksi internet. Tak menutup kemungkinan pemberlakukan pendataan offline apabila terkendala jaringan internet. Kendala lain adalah kejujuran wisatawan dan warga dalam mengisi data.

“Untuk internet, apabila kecepatan jaringan kurang maka akan kami tambah dengan WiFi gratis. Kalau tidak kembangkan versi offline, jika dapat koneksi baru langsung kirim,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama