RADAR JOGJA – Melandainya kasus positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di DIJ bukan berarti masyarakat bisa bersantai diri. Selama akses transportasi terbuka, maka mobilisasi warga bisa terjadi setiap waktu. Fakta ini tentu bisa memperbesar penyebaran potensi Covid-19.

Ketua Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menilai potensi penambahan kasus masih bisa terjadi. Dia mencontohkan beberapa pekan terakhir. Sempat melandai bahkan zero case lalu muncul tujuh kasus baru. Ditambah lagi mayoritas adalah imported cases.

“Kita ini (DIJ) akan selalu kedatangan orang banyak. Bukan saja untuk wisata tapi pulang kerja lalu mahasiswa baru dan mahasiswa yang kembali kuliah. Harus siapkan uba rampe lebih banyak lagi, rapid tes tapi paling akurat itu PCR,” jelasnya, Rabu (1/7).

Sekprov Pemprov DIJ ini tak melarang warga untuk datang ke DIJ. Hanya saja jajarannya tetap mengantisipasi dengan pemeriksaan medis. Kebijakan ini turut melibatkan otoritas tranportasi publik. Diantaranya PT Angkasa Pura I dan PT. KAI Daop 6 Jogjakarta.

“Tetap perketat tapi kami juga tidak melarang. Boleh datang tapi harus melalui proses pemerisaan. Kami tidak membatasi orang datang tapi protokol kesehatan dilakukan. Untuk penumpang kami kerjasama dengan otoritas bandara dan perkeretaapian,” katanya.

Perhatian Gugus Tugas Covid-19 DIJ tak hanya pada pendatang luar daerah. Potensi penularan juga bisa terjadi di tingkat lokal. Terutama ruang publik yang menjadi pusat kerumunan warga.

Aji mencontohkan kawasan pasar tradisional. Berdasarkan evaluasi dan kajian, protokol kesehatan Covid-19 belum berjalan optimal. Beberapa penghuni pasar tradisional masih abai atas aturan baku tersebut.

“Pasar wilayah paling berat. Pertama karena luasan pasar dibandingkan pengunjung, sulit dilakukan pembatasan. Kedua pasar dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, baik bakul maupun pembeli,” ujarnya.

Dia meminta agar pemerintah kota dan kabupaten mengawasi secara ketat. Selain itu juga menyusun sebuah kebijakan evaluatif. Tujuannya untuk mendapatkan aturan yang sesuai untuk diterapkan.

“Walau pasar di Jogjakarta sekarang aman bukan berarti bisa bersantai diri. Kabupaten kota yang punya kewenangan mengetatkan SOP. Jumlah pengunjung diatur kalau penuh ya distop. Ada jalur masuk dan keluar agar pengunjung tak tabrakan,” katanya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menuturkan banyak tantangan selama pandemi Covid-19. Tantangan terbesar adalah kedatangan warga dari luar Jogjakarta. Solusi satu-satunya adalah menjalankan protokol kesehatan Covid-19 secara disiplin.

“Saat memasuki new normal dan normal itu harus mendatangkan orang. Mahasiswa dan wisatawan sudah datang. Jadi tantangan yang menghadapi ancaman. Oleh karena itu memperkuat protokol kesehatan,” ujarnya.

Bupati Sleman Sri Purnomo memiliki pendapat yang sama. Menurutnya, selama vaksin Covid-19 belum ditemukan, ancaman virus akan selalu ada. Selama masa pandemi ini, SP, meminta warga untuk patuh protokol kesehatan Covid-19 

Dia menyampaikan angka kasus Covid-19 di Sleman turut melandai. Tercatat 82 persen dari total pasien telah dinyatakan sembuh dari Covid-19. Tapi ini bukan berarti bisa leluasa menjalani aktivitas harian.

“Selama belum ditemukan vaksin, maka banyak orang tanpa gejala (OTG). Kelihatan sehat tapi ada bibit covid di dalam tubuhnya. Saat imun down maka bisa kena Covid-19, yang penting adalah bisa melawan lupa. Bahwa sekitar kita masih ada Covid-19,” pesannya. (dwi/tif)

Jogja Utama