RADAR JOGJA – Seleksi pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) online tingkat SMA/SMK Negeri di DIJ tahun ajaran 2020/2021 sudah dimulai sejak Selasa (29/6). Tapi masih banyak keluhan dari orang tua wali siswa yang masih bingung dengan alur PPDB tahun ini.

Salah satu wali siswa dari salah satu siswa dari Sumatera Utara Daniel Priro Simanjuntak. Adiknya lulusan dari salah SMP di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Dia sudah memasukkan data yang diperlukan melalui jalur prestasi, tetapi belum mendapat token karena belum melakukan verifikasi. “Pemberitahuan pas ambil token itu telat, tidak ada akun diverifikasi. Harusnya kan ada pmberitahuan di email,” katanya ditemui di kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ, Selasa  (30/6).

Daniel mengaku, lebih efektif sistem PPDB tahun lalu. Karena lebih mudah dipahami alurnya. Juga masih menggunakan nilai ujian nasional. “Kalau dapat nilai bagus, kalau punya reward juga bisa milih sekolah yang dimau. Tapi ya karena keadaan Covid-19 seperti ini ya bagaimana lagi,” keluhnya.

Dia menyebutkan, orang tua atau wali murid masih banyak bingung terkait alur PPDB tahun ini. “Mungkin harus ada sosialiasi yang lebih. Kemarin bisa sampai sore karena sampai ratusan yang mengantre,” jelasnya.

KOSULTASI: Orang tua siswa meminta informasi terkait Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online 2020 di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ,  (30/6) ( JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA )

Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Disdikpora DIJ Didik Wardaya mengakui, hingga hati kedua ini masih banyak orang tua yang masih bingung dan ada keluhan. Rerata perhari ada 300-an keluhan. “Kemarin saja sampai pukul 16.00 sore masih ada dua yang belum dilayani. Tapi untuk saat ini tidak ada kendala semua masih bisa ditangani,” jelasnya.

Hari pertama pendaftaran, Senin (29/6) sudah banyak keluhan dri orang tua murid. Keluhan yang paling banyak yaitu terkait waktu mengajukan token. “Ada yang menunggah token kebalik artinya kan verifikasinya juga jadi terlambat,” ungkapnya.

Untuk siswa yang belum mengambil token juga tetap dilayani, karena beberapa orang tua yang mengeluh rata-rata dari wilayah yang pinggir. “Seperti ada yang dari Kulonprogo tetap dilayani karena kendalanya sinyalnya, kemudian informasi juga minim jadi ya gimana lagui. Tetap harus dibantu. Jadi kami beri kesempatan,” imbuh Didik.

Didik menambahkan, hingga Selasa (30/6) pukul 11.30 jumlah siswa yang sudah terpampang yaitu 30.179 siswa. “Dari 34.074-an siswa yang sudah mendaftar. Artinya, sudah melalui proses pergeseran dan sudah banyak siswa yang terlempar,” katanya.

Total daya tampung untuk SMA/SMK di DIJ tahun ini sekitar 32 ribuan lebih kuota. Sedang, yang sudah terpampang atau terdaftar untuk SMA ada 13.681 siswa dan SMK ada 16.498 siswa. “Itu saja juga ada yang lulusan 2018 itu ada sembilan anak. Tapi saya optimis, kuota itu bisa terpenuhi. Untuk jalur KKO (kelas khusus olahraga) dan jalur sekolah seni kan juga belum masuk,” katanya. (cr1)

Jogja Utama