RADAR JOGJA – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi di Kabupaten Bantul kini dipertegas. Sesuai Pedoman Pelaksanaan PPDB TK, SD, dan SMP, bupati Bantul telah mengubah Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 28/ 2020 menjadi Perbup Nomor 67/ 2020, pada Senin (29/6).

Langkah ini sebagai tindak lanjut Pemerintah Daerah (Pemda) Bantul dalam mengakomodasi protes dan keluhan orangtua/ wali murid terkait sistem zonasi yang dinilai mengecewakan. Dalam aturan sebelumnya, usia menjadi prioritas zonasi PPDB 2020. “Tadi malam sudah dirapatkan. Kebijakan saya ubah dan sudah terbit pagi ini,” ungkap Bupati Bantul Suharsono usai Rapat Koordinasi bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) di Kantor Parasamya Bantul, Selasa (30/6).

Dalam Perbup perubahan disebutkan, siswa yang tinggal di radius 500 meter dari sekolah mendapatkan kuota 5 persen dari total kuota jalur zonasi sebanyak 55 persen. Artinya, jalur zonasi tak sepenuhnya diprioritaskan pada jenjang usia maksimal. Ketentuan peringkat berdasarkan umur maksimal yaitu 15 tahun.  “Kemarin kan banyak yang mengeluhkan usianya kurang. Sekarang saya silahkan tetapi tetap dalam radius tersebut,” ungkap Suharsono.

Dia menyebut, siswa berprestasi dan mengikuti program akselerasi sekolah menjadi faktor jenjang usia siswa mendaftar sekolah cenderung belia. Dia memastikan peraturan tersebut tak akan tumpang tindih dengan peraturan pusat.”Kami tetap mengacu pada peraturan menteri (Permen) yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Mulai kemarin, aturan tersebut telah disampaikan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul untuk selanjutnya disosialisasikan hingga tingkat bawah. Termasuk sekolah.

Kepala Disdikpora Isdarmoko mengatakan, Perbup perubahan tersebut hanya mempertajam dan tidak mengubah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44/ 2019. Ataupun Surat Edaran (SE) Mendikbud Nomor 1/ 2020 menyebutkan, jalur zonasi ataupun afirmasi (siswa tidak mampu) tidak mengacu pada nilai. Melainkan zona kewilayahan dan usia.  “Ada yang rumahnya dekat tapi terpental. Nah saat ini sudah diakomodasi,” terang Isdarmoko.

Kendati begitu, PPDB 2020 tetap mengacu pada Permendikbud. Yakni, 20 persen berdasarkan jalur prestasi, jalur afirmasi 20 persen, jalur perpindahan orangtua 5 persen dan 55 persen jalur zonasi. “Jika protesnya itu anakku ora ketompo itu jadi sulit. Entah seleksi apa saja itu pasti ada yang tidak lolos. PPDB itu kan baru dilakukan di sekolah negeri. Sedangkan sekolah ada banyak, ada SMP/MTS negeri dan swasta,” bebernya.

Kebijakan tersebut, sesuai arahan Mendikbud yang berupaya menghapus sekolah favorit dan tidak favorit. Tetapi tetap berakreditasi.

Sebelumnya, sejumlah orangtua/wali murid menyampaikan kekecewaan atas kebijakan pemerintah jalur zonasi yang memperioritaskan usia dibandingkan prestasi dan zonasi. Kebijakan itu dinilai mematahkan semangat belajar siswa.

Penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur zonasi di tingkat SMA masih mempertimbangkan nilai. Usia turut menjadi tolok ukur, tapi hanya pada batas maksimalnya, yaitu 21 tahun. Sedangkan batas minimalnya, tidak ada.

Orang tua calon siswa asal Wirokerten, Banguntapan, Bantul Nur Alamsyah mengaku tidak kesulitan menentukan sekolah untuk anaknya. Tapi, untuk masuk SMA yang diinginkannya sulit tercapai. “Persaingannya ketat, dan sistem penilaiannya tidak menggunakan ujian nasional,” ujarnya.

Pria 45 tahun itu menjelaskan, dalam PPDB SMA tahun ini adalah jarak terdekat kelurahan dan sekolah. Nilai rata-rata raport sejak kelas tujuh sampai sembilan turut menjadi acuan. Nur mengaku beruntung, PPDB SMA tidak menerapkan usia sebagai prioritas. Ternyata anaknya mulai masuk SD di usia lima tahun delapan bulan. Sehingga, saat ini usia anaknya masih 14 tahun delapan bulan.“Tetap nilai lebih fair, kasihan juga. Meskipun ada jalur prestasi, kalau pintarnya sedang tapi usianya muda. Jadi nggak bisa masuk, kalau acuannya usia,” jelasnya.

Koordinator PPDB SMAN 1 Jetis membenarkan, jalur zonasi memprioritaskan jarak, kemudian nilai, pilihan sekolah, lantas urutan pendaftar. Empat kriteria ini yang digunakan sebagai kriteria sesuai instruksi dari Peraturan Gubernur DIJ No 30/2020 tentang PPDB SMA, SMK, dan SLB Tahun Pelajaran 2020/2021. “Usia maksimal 21 tahun, tapi minimalnya nggak ada,” ujarnya.

SMAN 1 Jetis menerima 288 siswa dalam PPDB tahun ini. ada empat jalur yang dapat ditempuh, yaitu zonasi dengan kuota 55 persen, afirmasi 20 persen, perpindahan orangtua 5 persen, dan prestasi 20 persen. “Untuk jalur selain zonasi, apabila tidak terpenuhi, kuotanya akan dialihkan ke zonasi,” jelasnya.

Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Suhirman menjelaskan, Permendikbud No. 44/2019 tentang PPDB TK SD SMP SMA SMK menjadikan zona sebagai ruh jalur zonasi. “Kemudian kami menjadikan nilai sebagai tolok ukur untuk menghargai perjuangan siswa,” sebutnya.

Hal ini diklaim Suhirman tidak bertentangan dengan Permendikbud karena menggunakan zonasi sebagai ruh. Setiap kelurahan memiliki jatah sekitar dua sampai tiga sekolah. “Jadi pengukuran zonasi bukan rumah tapi kelurahan terdekat dengan sekolahan. Sebenarnya, kami ingin murni tidak menggunakan nilai, tapi kami masih belum siap,” ucapnya tanpa penjelasan lebih lanjut. (mel/cr2/din)

Jogja Utama