RADAR JOGJA – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Jogja diklaim menurun sejak Maret hingga Juni ini. Giat pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang masih berlangsung menjadi pemicu dari menurunnya kasus ini di masa pandemi Covid-19.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Kota Jogja, Endang Sri Rahayu mengatakan kasus penyakit DB di Kota Jogja tidak berpengaruh terhadap kondisi pandemi Covid-19. “Artinya yang rajin PSN tetap melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk dan melakukan gerakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS),” katanya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Jogja jumlah kasus demam berdarah (DB) dari awal tahun hingga 23 Juni tercatat 243 kasus dengan puncak kasus terjadi pada bulan Februari yaitu 72 kasus. “Bahkan sampai 23 Juni, hanya ada dua kasus,’’ ujarnya.

Dia menambahakan kewaspadaan perlu ditingkatkan apalagi ketika sudah memasuki musim pancaroba. Terlebih masih di tengah masa pandemi Covid-19. Pencegahan lebih kepada gerakan masyarakat akan PHBS. Artinya secara penyebab merupakan sama-sama virus. Melainkan dalam konteks penularan yang berbeda, pun cara penanggulangannya juga berbeda. “Kalau covid-19 langsung melalui droplet atau cairan tubuh yang mengandung virus. Kalau DB melalui gigitan nyamuk, otomatis pencegahannya juga berbeda,” terangnya.

Adapun ketika sudah muncul gejala-gejala mengarah ke DB tindakan dan penanganan harus butuh perhatian dan cepat. Seperti muncul gejala panas harus membutuhkan keterangan  waktu panas pasien. Bukan sekedar menghitung hari pans tetapi lebih kepada waktu mulai panas. “Karena yang harus waspada saat hari ke empat dan lima panas, tiba-tiba muncul dingin. Dan gejala lain lemes, pusing itu tanda-tanda syok sehingga harus dirujuk ke rumah sakit,” sambungnya.

Oleh karena itu jika suhu tubuh menurun ini, maka perlu diperhatikan gejala lain yang ditunjukkan oleh pasien seperti keluar keringat dingin, kaki dan tangan dingin, lemas, pusing, mual. “Dan tidak ada selera makan atau minum,” tambahnya. (wia/din)

Jogja Utama