RADAR JOGJA – Karena kecintaanya dengan batik, semasa hidupnya, Amri Yahya (AY) terus melestarikan dan memperkenalkan batik ke kancah dunia. Hingga sering mengadakan pameran ke luar negeri. Bahkan, saat lakukan pameran di luar negeri, AY juga selalu mengenakan baju batik. Juga mendemokan cara melukis batik.

“AY bahkan juga mengajarkan batik ke bangsa lain, terbukti pada setiap pameran di luar negeri, AY selalu menyertakan demo melukis batik dan ceramah tentang kesenian dan pariwisata Indonesia,” tutur Adwi Prasetya Yogananta kepada Radar Jogja, Minggu  (21/6).

Di galeri miliknya pun, dia juga melakukan hal yang sama. Yakni, demo melukis. Jika ada kunjungan yang terjadwal, hampir semuanya disertai demo melukis batik. Baik kunjungan untuk pelajar atau wisatawan domestik. “Lebih-lebih wisatawan mancanegara,” tegas putra kedua AY itu.

Bahkan dari catatannya, Amri Art Gallery-lah yang memelopori demo melukis batik yang dapat disaksikan oleh siapa saja yang berkunjung ke galeri. Adwi menyebutkan, AY dapat melukis cepat hingga empat lukisan dalam satu hari. Tetapi hanya lukisan tertentu saja, yaitu lukisan dengan media acrylic atau cat air.  Untuk lukisan dengan media batik yang seketika jadi, itu adalah lukisan untuk demo. “Yang dilakukan di galeri atau di venue pameran di luar negeri. Hal itu agar bisa dibawa pulang pengunjung saat pulang,” lanjut dia.

Justru untuk karya lukis batik non demo, masa pengerjaannya lama. Satu karya dapat dia dikerjakan berbulan-bulan. Minimal satu lukisan dalam tiga pekan. “Itu pun untuk lukisan batik yang secara teknis sederhana,” imbuh Adwi.

Selain itu, AY juga mengumpulkan beberapa orang dengan keahlian berbeda, terkadang tidak saling kenal untuk menciptakan suatu karya. Tetapi hanya untuk karya-karya AY tertentu seperti monumen, taman, dan sejenisnya. “Kalau untuk karya lukisan, yang dipunyai AY adalah asisten. Dan itu jamak dimiliki setiap pelukis bahkan setiap seniman,” tuturnya. (cr1/pra)

Jogja Utama