RADAR JOGJA – Gugus Tugas Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Kota Jogja tengah mengajukan permintaan satu unit mobil laboratorium bergerak penguji Polymerase Chain Reaction (PCR) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tujuannya untuk mempercepat uji swab kepada klaster maupun pemetaan kasus Covid-19 di wilayah Kota Jogja.

Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi membenarkan adanya pengajuan tersebut. Hanya saja hingga saat ini belum ada respon dari BNPB. Tak hanya mobil laboratorium bergerak, jajarannya juga mengajukan cartridge Covid-19 kepada BNPB.

“Benar, mobil PCR sudah ajukan ke BNPB tapi belum tahu jawabannya. Seperti milik Pemkot Surabaya itu. Kapasitasnya (uji swab) belum tahu, tapi intinya untuk mempercepat uji spesimen di Kota Jogja,” jelasnya, ditemui di Balai Kota Pemkota Jogja, Selasa (16/6).

Permintaan cartridge Covid-19 guna melengkapi mesin PCR yang dimiliki RSUD Kota Jogja. Selama ini mesin penguji swab tersebut tidak bisa digunakan. Penyebabnya adalah perbedaan cartridge. Alhasil mesin PCR tidak bisa menguji specimen Covid-19.

Strategi ini ditempuh guna mengoptimalkan pemetaan Covid-19. Wakil Wali Kota Jogja ini mengakui uji swab jauh lebih efektif dibandingkan uji rapid diagnostic test (RDT). Hanya saja ada kendala dalam menunggu hasil uji specimen. Alhasil Pemkot Jogja memilih uji RDT sebagai pemetaan Covid-19.

“Kami punya mesin PCR di rumah sakit kota, tapi cartridgenya beda, jadi kami ajukan cartridge Covid-19. Selama ini uji swab hasilnya tiga sampai empat hari. Sebenarnya efektif tapi kendala di kecepatan ujinya. Kalau terpenuhi daripada rapid tes mending swab,” katanya.

Sekretaris Provinsi (Sekprov) Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji tidak mempermasalahkan strategi Pemkot Jogja. Langkah ini setidaknya mampu memetakan persebaran Covid-19 lebih valid. Ini karena yang diuji adalah specimen langsung.

Di satu sisi Gugus Tugas Covid-19 DIJ justru belum mengajukan permintaan laboratorium bergerak. Untuk saat ini pengujian specimen masih berlangsung di empat laboratorium penguji. Pertimbangannya adalah keterbatasan tenaga medis yang dapat melakukan uji swab PCR.

“Belum ada mobil PCR keliling, kami (provinsi) pakai laboratorium yang sudah ada. Kalau mau meningkatkan ya bilik swab saja. Tapi kalau Pemkot (Jogja) memang sudah mengajukan itu (laboratorium bergerak) ke BNPB,” jelasnya.

Ketua Sekretariat Gugus Tugas Covid-19 DIJ ini memastikan ketersediaan PCR masih sangat mencukupi. Sehingga ini bukan menjadi alasan tidak adanya uji swab secara acak. Strategi utama adalah tetap pelacakan kepada suatu kasus atau tracing dengan RDT.

Aji menilai uji RDT masih lebih efektif dalam melacak persebaran Covid-19. Terlebih yang disasar adalah suatu kasus tertentu. Uji swab baru berlangsung apabila hasil uji RDT reaktif.

“Kalau seperti Jawa timur itu kan antar wilayahnya jauh-jauh, jadi memang harus ada mobil PCR. Tapi kalau disini (DIJ), orang datang ke suatu tempat untuk swab bisa. Bukannya tidak penting tapi memang (Gugus Tugas Covid-19 DIJ) belum perlu,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama