RADAR JOGJA – Telepon umum dulu begitu populer dan sangat dirasakan manfaatnya. Dengan bermodal uang koin Rp 100, pengguna bisa menghubungi nomor telepon rumah atau kantor. Ingat, handphone belum ada. Telepon umum pun bertebaran di berbagai sudut kota. Bahkan ada telepon umum yang juga bisa menerima panggilan. Ini biasanya di area permukiman atau perumahan.

Keberadaan telepon umum mulai tergeser dengan kehadiran wartel (warung telekomunikasi) dan akhirnya “habis” ketika HP mulai marak. Telepon umum pun kini seolah seperti pajangan dan sudah tidak berfungsi. Karena keberadaannya yang sudah langka itu, tak jarang para mantan penggunanya rindu. Salah satunya Joko Widianto.

Dulu ia sering memakai telepon umum untuk menelepon temannya yang ada di kota. Kalau telepon harus di jam-jam tertentu, agar bisa bertemu dengan yang bersangkutan. “Seringnya ketika telepon yang ngangkat itu anggota keluarga yang lain,” ujar Joko kepada Radar Jogja Jumat (5/6).

Ia mengatakan, jika ingin menelepon menggunakan telepon umum, lawan bicara harus memiliki atau ada telepon. Dulu jika sama-sama tidak punya fasilitas telepon rumah atau kantor, akan percuma jika mengggunakan telepon umum. Akhirnya, berkirim surat atau telegram.

“Kalau telepon itu harus buat janji dulu. Kalau eggak, ya ninggal pesan. Makanya dulu di setiap telepon rumah, di sampingnya ada buku pesan dan bolpoinnya,” tambah kepala SDN Tambran 1, Semin, Gunungkidul, ini.

Selain untuk menelepon temannya, beberapa kali dia juga sering memanfaatkan telepon umum untuk berkirim salam di Radio Geronimo FM. “Ya sering, kan kebetulan ada teman yang sama-sama suka dengan acara kirim-kirim salam gitu. Jadi saling sapa. Seru,” ungkapnya.

Tidak jarang saat kirim-kirim salam di radio itu untuk ajang ledek antarteman. Kalau ada yang tidak berangkat kuliah, kemudian dia kirimin salam. “Misalkan, salam dari dosen atau salam dari siapa gitu,” ucap Joko sambil tertawa.
Suatu ketika, pada 1992 di malam tahun baru dia jalan-jalan ke Malioboro dengan teman-temannya naik bus kota. Sekitar pukul 02.00, mereka mencari telepon umum untuk menelepon ke rumah temannya, meminta kakaknya menjemput di depan Kantor Pos Besar. “Ternyata nggak ada uang koin. Nggak bisa telepon juga, akhirnya pulang ke rumah teman di Warungboto dengan jalan kaki,” ceritanya sambil mengenang.

Untuk menggunakan telepon umum memang harus memasukkan uang koin terlebih dahulu. Kalau sudah ada bunyi “krek” berarti lawan bicara sudah mengangkat telepon. Nanti kalau durasi akan habis, ada bunyi peringatan. Baru masukkan koinnya lagi. Berbeda dengan wartel yang bisa membayar sejumlah durasi yang kita mau untuk bertelepon.

“Iya, koinnya uang Rp 50 atau Rp 100 gitu. Belakangan dibuat juga sejenis kartu. Kalau koin kan hanya melayani telepon lokal, kalau kartu bisa untuk interlokal atau ke luar daerah,” ujar pria yang kini tinggal di Piyungan, Bantul.
Pernah juga saat 1993 sampai 1995, tepatnya saat dia kerja di Semin, Gunungkidul. Jika ada kabar mendadak, teman atau saudara menelepon ke wartel di kota Kecamatan Semin, kemudian karyawan wartel menemuinya yang berjarak 12 km dari wartel. “Ya hanya untuk menyampaikan isi berita dan saya hanya membayar sekadarnya,” katanya.

Dulu dia sering menggunakan telepon umum di depan SGM (Sarihusada), depan Kantor Pos Besar, dan Rejowinangun. Dia menyebutkan, jika mendengarkan suara teman nun jauh di sana melalui telepon umum, saat itu sensasinya luar biasa. Bahagia banget karena suaranya jernih. Berbeda jika melalui interkom atau HT. “Ditambah sensasi dikejar durasi dan dipliriki para pengantre telepon umum lainnya,” kata Joko tertawa.

Ia merasakan dulu dengan sekarang sangat berbeda. Kini sudah dibarengi dengan canggihnya teknologi yang mempermudah semuanya, khusunya dalam hal komunikasi. Dulu kalau untuk bertemu dan komunikasi dengan yang lain, butuh perjuangan sehingga ketika itu benar-benar menikmati saat-saat bertelepon atau berjumpa setelah telepon.

“Sayangnya, sekarang semangat untuk bertemu dengan kawan tidak sekuat itu, karena sudah difasilitasi oleh telepon dan video call. Dulu kalau bertemu teman benar-benar total. Sekarang disambi pegang main HP,” keluhnya.

Pengalaman lain juga disampaikan mantan pengguna telepon umum Baharuddin Kamba. Anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja ini bercerita, saat duduk di bangku SMP pernah diganggu temannya untuk bergantian telepon saat menggunakan fasilitas umum alat komunikasi itu. Kamba mengatakan, saat itu menanyakan tugas kepada gurunya. Atau sekadar telepon orang tuanya minta dijemput pulang sekolah. “Dulu menggunakan uang logam bergambar wayang. Kami sebutnya uang kerokan, karena ukurannya tipis,” katanya kepada Radar Jogja kemarin (6/6).

Dikatakan, satu koin hanya diberikan waktu beberapa menit. Kalaupun mau nambah waktu, harus memasukkan koin lagi. “Tapi sudah banyak yang nunggu alias antre di belakang saya,” ungkapnya.

Dia terpaksa hanya telepon beberapa menit saja. Karena hanya memiliki satu koin, tidak bisa banyak waktu untuk berbicara. Selain itu, juga sudah banyak orang yang mengantre di belakangnya.

Pernah saat itu ada teman yang iseng karena dia terlalu lama menggunakan telepon umum. “Saya belum selesai ngomong di telepon, terus diganggu. Ya, gagangnya ditarik ke bawah,” ceritanya.

Diungkapkan, pada masa itu banyak fasilitas telepon umum terpasang di beberapa pinggir jalan atau stasiun. Dan menurutnya, tidak aman dari tangan-tangan jahil orang lain. “Karena ada coretan di boks telepon umum itu,” tambah Kamba. (cr1/wia/laz)

Jogja Raya