RADAR JOGJA – Selama pandemi Covid-19 terjadi penurunan rata-rata konsentrasi harian karbon monoksida (CO) di Kota Jogja yang cukup signifikan. Penurunan parameter CO itu terjadi pada masa tanggap darurat mulai April dan Mei. Dibandingkan Maret, penurunan konsentrasi CO pada Mei mencapai 42 persen.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Suyana mengatakan, puncak konsentrasi CO terekam pada Desember 2019. Itu karena diduga pada saat tersebut jumlah kendaraan yang masuk ke Kota Jogja sangat tinggi karena berbarengan dengan liburan Natal dan tahun baru. “Saat ini menjadi konsentrasi CO terendah di Kota Jogja,” katanya kemarin (5/5).

Suyana menjelaskan penurunan itu terpantau sejak dipasangnya stasiun Air Qualty Monitoring System (AQMS) tahun lalu di kantor DLH. Alat itu yang mampu merekam pergerakan data pencemaran udara ambien secara kontinyu dan real time. “Faktornya karena penurunan grafik lalu lintas dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Perhitungan parameter CO itu ring coverage-nya sekitar dua kilometer (KM) dari titik alat AQMS terpasang dan tergantung pada arahannya. Jika mengarah ke utara ring coverage bisa mencapai 3-4 KM.

Adapun pertimbangan alat AQMS dipasang di kompleks kantor DLH selain karena berukuran 3×4 meter yang membutuhkan space ruang terbuka dan terbebas dari pohon. Namun juga disarankan dipasang yang tidak jauh dengan Jalan Solo, rel kereta api, bengkel PT KAI, perkantoran-perkantoran maupun pertokoan.

Menurutnya, penurunan ini menjadi catatan penting bahwa rendahnya mobilitas kendaraan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas udara ambien Kota Jogja. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa yang dihasilkan oleh proses pembakaran yang tidak sempurna di dalam mesin.

Gas ini sangat beracun yang berbahaya bagi tubuh karena sangat reaktif dalam berikatan dengan haemoglobin darah, sehingga mengganggu distribusi oksigen ke seluruh tubuh.

Namun demikian, penurunan parameter CO ini dimungkinkan hanya bersifat sementara dan tidak akan berlangsung lama seiring dengan rencana akan diberlakukannya kebijakan new normal. Penerapan new normal, secara otomatis akan mendorong pergerakan aktivitas ekonomi masyarakat sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap peningkatan kepadatan transportasi yang merupakan sumber utama CO. “Dengan tidak banyaknya traffict mungkin akan bisa mempertahankan CO. Jangan terlalu kaget kemudian langsung naik lagi,” katanya.

Oleh karena itu dia mengimbau dengan cara menyeimbangkan aktivitas masyarakat dan menjaga kualitas udara akan membantu menjaga kestabilan konsentrasi CO. (wia/din)

Jogja Utama