RADAR JOGJA – Kedisiplinan semua pihak untuk melaksanakan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah adalah faktor kunci dalam memutus mata rantai penularan virus Covid-19.

Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM) Dedi Rosadi ( ISTIMEWA )

Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM) Dedi Rosadi menjelaskan, berdasarkan tracking data terakhir sampai 28 Mei, terdapat lonjakan estimasi kasus positif menjadi 48 ribuan. Sebelumnya, lonjakan sampai akhir masa pandemi hanya diperkirakan mencapai 31 ribuan jiwa positif.

Dedi menjelaskan, ada beberapa catatan penting yang perlu menjadi perhatian bersama terkait dengan wacana new normal. Salah satunya adalah angka perhitungan R0t Covid-19 Indonesia dalam beberapa hari terakhir masih disekitar 1.1. ”Jika masyarakat tidak berhasil menjalankan protokol kesehatan secara disiplin, maka kondisi belum bisa dikatakan sepenuhnya aman terhadap kemungkinan penularan lokal,” jelasnya kemarin (2/6).

Namun, jelasnya, harus dipahami pula, bahwa kondisi disetiap daerah bervariasi besaran harga angka reproduksinya. Sesuai dengan database BNPB pertanggal 31 Mei 2020, terdapat 104 kabupaten/kota merupakan daerah dengan zona hijau sehingga daerah tersebut relatif aman untuk dilaksanakan kondisi new normal sesuai protokol yang berlaku.

Selain itu, mematuhi protokol kesehatan yang dimaksud tidak berbeda dengan yang disampaikan oleh pemerintah. Utamanya menggunakan masker ketika keluar rumah, rajin cuci tangan dengan menggunakan sabun, tangan tidak steril dilarang menyentuh bagian wajah yang berpotensi menjadi pintu masuk virus. “Dan memperhatikan anjuran distancing serta menghindari kerumunan,” tambahnya.

Dedi menambahkan melakukan pengawasan maupun pengendalian yang ketat terhadap mobilitas penduduk baik domestik dan internasional yang diduga berpotensi mengakibatkan penularan virus. Misalnya arus balik setelah lebaran, masih perlu menjadi perhatian disamping upaya efektif untuk pengendalian penyebaran lokal. Caranya,  melalui tracking dan karantina orang beresiko baik pasien dalam pengawan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP). Serta adanya rapid testing yang terukur namun cukup masif terhadap potensi penularan orang tanpa gejala (OTG) terutama untuk daerah-daerah zona merah.

Dalam perkiraan permodelan PDDM sebelumnya (25/4) menunjukkan, di Indonesia pandemi akan mereda di bulan Juli masih cukup relevan. Estimasi nilai maksimum pasien disekitar angka 48 ribu diprediksikan dibawah asumsi penambahan pasien data positif pada minggu ketiga Mei kemarin sudah merupakan angka tertinggi. Peningkatan kapasitas test PCR yang telah ditunjukkan dalam 2 minggu terakhir memberikan harapan yang baik untuk kecepatan penanganan wabah ini.

Hanya saja, munculnya epicenter baru Jawa Timur merupakan penyebab lonjakan pasien positif yang paling signifikan. Keberhasilan penanganan Covid-19 di Jawa Timur menjadi tumpuan harapan bersama agar pandemi ini tidak semakin mengkhawatirkan. “Demikian pula pengendalian provinsi-provinsi lain yang berpotensi membahayakan seperti Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Papua perlu dioptimalkan agar Indonesia dapat semakin optimis menatap ke depan,” ungkapnya. (eno)

Jogja Utama