RADAR JOGJA – Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo memastikan draft standar operasional prosedur (SOP) dan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) rampung tepat waktu. Kajian yang digunakan adalah hasil pertemuan dengan lintas asosiasi. Konsep yang diusung adalah draft Cleanest, Health and Security (CHS).

New Normal atau tatanan kehidupan baru, menurutnya, tak sekadar regulasi. Perlu ada kedisiplinan dan kesadaran kolektif dalam menjalankannya. Sehingga kebijakan ini mampu terimplementasi secara baik dalam rutinitas kehidupan pariwisata.

“Sektor pariwisata bersama seluruh asosiasi sedang finalisasi baik protokol maupun SOP Cleanest, Health and Security. Dalam minggu ini target selesai di gugus tugas, Minggu depannya lagi akan simulasi memastikan bahwa protkol maupun SOP bisa dilaksanakan,” jelasnya, ditemui di Bangsal Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (2/6).

Selain evaluasi dilakukan juga uji coba kebijakan terhadap sejumlah destinasi wisata. Tujuannya untuk menutup celah kekurangan kebijakan.

Singgih juga telah mendapatkan wejangan dari Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Agar tidak tergesa-gesa dalam menyusun draft sehingga kajian bisa dilakukan secara mendalam. Termasuk menjaring masukan dari asosiasi wisata.

“Pak gubernur (HB X) sampaikan tidak perlu tergesa gesa tapi harus disiapkan secara matang. Kalau sudah siap semua, dan rekomendasi gugus tugas turun maka kenormalan baru di dunia pariwisata bisa dimulai,” katanya.

Sementara itu Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekprov DIJ Tri Saktiyana menuturkan skema new normal dunia wisata berlaku efektif dengan cara bottom up. Setiap stakeholder memiliki kesadaran yang sama dalam menjalan regulasi. Begitupula para konsumen atau target sasaran dunia wisata. 

Ada banyak perubahan pasca penerapan skema the new normal. Termasuk dalam teknis kerja setiap unit usaha. Dia mencontohkan kinerja perhotelan. Persiapan new normal tak sekadar penyediaan tempat cuci tangan.

Pelayanan kepada tamu hotel juga harus berubah drastis. Acuannya adalah SOP dan protokol yang disepakati. Diawali dengan jeda waktu antara check in dan check out. Lalu standar pelayanan sarapan hingga pembersihan kamar.

“Lalu bagaimana konsumen juga sepakat untuk menaati. Aturan ini tak bisa dijalani hanya oleh hotel saja tapi juga konsumen. Tentu nanti ada proses pengawasan di internal toko. Ini juga wajib dikaji,” ujarnya.

Tri Sakti turut mengapresiasi inisiatif regulasi. Diketahui bahwa sejumlah tempat usaha telah beroperasi normal tanpa menunggu SOP. Hanya saja setiap pelaku usaha telah menyusun regulasi secara mandiri. Berlaku bagi SDM unit usaha maupun konsumennya.

Hingga saat ini memang belum ada SOP dan protokol kesehatan Covid-19 yang diterbitkan Pemprov DIJ.  Walau begitu sejumlah pelaku usaha telah menerapkan secara mandiri. Dengan catatan masih dalam batas minimal.

“Ini sudah bagus tapi memang harus ada penyempurnaan. Covid ini masalah baru sehingga kebenaran terhadap prosedur masih bisa berubah. Jadi evaluasi berjalan sangat mungkin dilakukan,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama