RADAR JOGJA – Tidak sedikit mahasiswa yang tinggal di asrama, selama masa pandemi Covid-19 bertahan hidup dalam keterbatasan. Bahkan ada yang kekurangan dalam memenuhi kebutuhan pokok makan sehari-hari. Beruntung ada dapur umum yang didirikan warga, sehingga setidaknya kebutuhan pangan mereka tercukupi.

Sebanyak 75 mahasiswa yang tinggal di Asrama Sabina Aceh, Asrama Mahasiswa Sam Ratulangi Sulawesi, serta kos-kosan asal Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera dan lain-lain di kampung Wirogunan, Kota Jogja, hidup seadanya selama pagebluk ini. Berawal ada mahasiswa meminta gula pasir ke pengurus kampung, maka berdirilah dapur umum ini.

“Iya, awalnya ada mahasiwa minta gula kepada kami. Kami tanya, mereka makannya bagaimana, ternyata seadanya sekali. Itu yang membuat kami nggak tega, sehingga berinisitiaf mendirikan dapur umum untuk para mahasiswa ini,” ungkap Yogi Prasetyo, ketua RW 09 Wirogunan, Mergangsan, Kota Jogja, saat ditemui di Dapur Umur Wirogunan, kemarin (28/5).

Yogi menjelaskan, dapur umum berdiri sejak bulan Ramadan lalu atau sudah 19 hari hingga sekarang. Sebelum ada dapur umum, selama puasa para mahasiswa memenuhi kebutuhan sahur dan buka puasa hanya dengan mi rebus. Selain itu puluhan mahasiswa yang ada di wilayah ini belum ada yang memikirkan, meski terdampak pandemi Covid-19. “Makanya kami tergerak untuk mendirikan dapur umum ini. Paling tidak, bisa meringankan beban makan sehari-hari mereka,” ujarnya.

Dapur umum berdiri di bekas lahan sentra kuliner Wirogunan yang mandek akibat Covid-19. Para mahasiswa itu tidak bisa pulang ke daerah asalnya karena keadaan keluarganya yang juga terkena imbas merebaknya virus korona ini.

Dia bersama beberapa relawan sukarela memasak setiap hari dengan menu berbeda-beda. Bahan makanan dan bahan pokok pun swadaya sendiri. Di samping ada beberapa donatur yang menyumbangkan ke dalam bentuk sembako maupuan uang tunai. “Sumbangan apa pun kami terima. Untuk per hari kami buat 100 porsi,” tambahnya.

Seratus porsi itu untuk 75 mahasiwa terdampak di kampung Wirogunan, ditambah 13 mahasiswa Tuntungan Tahunan dan 13 mahasiswa di Babarsari, Sleman. Satu kali makan kurang lebih Rp 10 ribu. “Mereka ini rata-rata tidak bisa pulang dan tidak makan. Dengan ini, setidaknya bisa makan gratis untuk menyambung hidup,” jelasnya.

Bagi mahasiwa yang mendapat jatah antar makan, hanya dapat satu kali makan saja. Namun bagi mahasiswa yang bisa datang sendiri ke dapur umum, bisa makan tiga kali sehari atau bisa makan kapan pun jika dibutuhkan. “Kami terbuka untuk umum dan buka 24 jam,” tambahnya. Hingga kemarin sudah 1.800 porsi yang terbagi ke mahasiswa.

Sebelumnya dapur ini direncanakan hanya sampai 1 Juni. Namun karena adanya perpanjangan masa tanggap darurat Covid-19 dari pemerintah daerah, maka dapur umum juga diperpanjang hingga 30 Juni. “Kami optimistis insya Allah tidak keberatan. Karena dapur ini bagi mereka sangat berharga,” kata Yogi.

Salah seorang mahasiswa dari Lampung, Wahyu Ari Prasetyo, mengaku keberadaan dapur umum ini sangat membantu meringankan beban mahasiswa yang tidak bisa pulang dan mengalami kekurangan kiriman dari orang tua. “Ini sangat membantu kami. Kami bisa makan tanpa mengeluarkan uang sama sekali,” kata mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) ini.

Sebelumnya dia menghuni bersama tujuh temannya di kos-kosan. Namun saat ini tinggal seorang diri karena tidak bisa pulang dampak Covid-19. Sebelumnya dia hanya mengandalkan kiriman dari orang tua. Semakin lama kiriman semakin menipis, hingga hanya makan dan memasak seadanya. “Sekarang sudah nggak ada lagi kiriman dari orang tua. Jadi juga tidak mungkin pulang,” tambah mahasiswa Jurusan Seni Rupa ini.

Dia mengaku selama ini belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah setempat. Dengan adanya dapur umum, sudah cukup membantu baginya untuk bisa makan sehari-hari. Hingga keseharian sampai malam pun membantu relawan di dapur umum. “Harapan saya semoga dapur umum ini terus berjalan sampai Covid-19 selesai. Karena dapat membantu kami anak kos,” harapnya.

Sementara, Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan, warga Jogja berbagi itu merupakan program aksi Ngluwihi lan Mbagehi yang digalakkan Pemkot Jogja. Selama ini sudah dijalankan oleh kelompok Gandeng Gendong. “Ini karena pesanan banyak berkurang dan beralih ke penyediaan makanan,” katanya.

Warga masyarakat sebagai donaturnya. Warga yang memesan memberi uang yang lebih banyak atau ngluwihi. “Sehingga bisa memasak lebih banyak yang kemudian dibagikan,” ujarnya. Selain Kelurahan Wirogunan, aksi seperti ini juga dilakukan di beberapa wilayah seperti Semaki dan Cokrodiningratan dengan sasaran berbeda-beda. “Dengan partisipasi dan kepedulian masyarakat seperti ini, semoga kita bisa mengatasi masalah pandemi dan masalah sosial ekonomi secara bersama-sama,” harap Heroe. (wia/laz)

Jogja Utama