RADAR JOGJA – Inovasi uji diagnosis cepat atau rapid diagnostic test (RDT) untuk Covid-19 karya peneiliti Indonesia masih dalam uji validasi. Uji validasi dilakukan pada 4.000 alat dari 10.000 total produksi tersebar di RSUP Dr. Sardjito, Rumah Sakit Akademik UGM, RSUD Jogja, RSUP Dr. Kariadi Semarang, dan RSUD Dr. Moewardi Solo, RSUD Dr. Soetomo dan RS UNAIR.

Guru Besar FK-KMK UGM, Prof. dr. Sofia Mubarika Haryana yang juga memimpin pembuatan inovasi RDT untuk Covid-19 menjelaskan, dibandingkan dengan RDT yang beredar di pasaran, inovasi yang dinamai RI-GHA19 memiliki harga lebih murah. “Serta memiliki kelebihan bisa mendeteksi secara cepat dalam waktu 5-10 menit,” jelas Rika, kemarin (26/5).

Menurut Rika, RI-GHA19 berbasis antibodi untuk mendeteksi IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan Covid-19. Rika melakukan penelitian bersama dengan peneliti lain yaitu Tri Wibawa ahli virologi sekaligus Guru Besar FK-KMK UGM, Mulyanto seorang Alumni FK-KMK UGM yang juga seorang peneliti Laboratorium Hepatika Mataram, NTB. Selain itu Fedik Abdul Rantam, ahli Virologi dan Cita Rosita Sigit Prakoeswa seorang Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya.

Untuk proses RDT Covid-19, dilakukan mulai dari pengujian menggunakan serum positif Covid-19 yang diperoleh dari Balitbangkes. “Setelah hasil yang diperoleh positif, kemudian kami juga melakukan uji banding dengan produk komersial,” tambahnya.

Hasilnya menunjukkan, pengujian menggunakan serum positif Covid-19 yang diperoleh dari Balitbangkes ternyata produk komersial yang beredar adalah total Immunoglobulin sehingga tidak spesifik. Tidak seperti total IgM atau IgG yang dikembangkan. Uji banding masih dilakukan dengan merk komersial terbaik RDT. Dari 20 sampel dengan positif IgM, produk RI-GHA19 hanya memperoleh delapan positif. Hasil positif berjumlah delapan juga didapatkan saat dibandingkan dengan merk komersial terbaik. Hasilnya, sampel positif Covid-19 yang sebelumnya diuji dengan PCR hasilnya 20, menghasilkan antibodi baru sebanyak delapan sampel. “Kemungkinan sisanya belum terbentuk antibodi,” tuturnya. (eno/pra)

Jogja Utama