RADAR JOGJA – Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo memastikan destinasi wisata di Jogjakarta belum beroperasi pada awal Juni. Pernyataan ini guna menjawab maraknya selebaran informasi di sosial media. Menyatakan bahwa Jogjakarta akan membuka seluruh destinasi wisata diawal Juni.

Singgih memastikan tak ada wacana pembukaan destinasi wisata dalam waktu dekat. Terlebih protokol dan standar operasional prosedur (SOP) belum tersusun. Acuan ini nantinya menjadi pegangan bagi seluruh pengelola destinasi wisata, hotel dan restoran.

“Padahal statement baik itu dari saya maupun dari pejabat Pemda, Gugus Tugas itu kan sama sekali tidak ada. Sampai ke Ngarso Dalem (Gubernur DIJ Hamengku Buwono X) sama sekali tidak menyampaikan hal tersebut,” jelasnya, Selasa (26/5).

Singgih sangat menyayangkan beredarnya informasi tersebut. Terlebih muatan didalamnya seakan informasi resmi. Menyebutkan bahwa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan membuka destinasi wisata. Selain Jogjakarta yakni Bali dan Kepulauan Riau.

“Di sosial media sudah tersebar dan cukup banyak pro dan kontra. Mungkin ambil judul dari situ, jadi itu tidak benar. Belum ada operasional dan akan buka awal Juni,” tegasnya.

Penyusunan protokol dan SOP sendiri mengacu pada penerapan the new normal. Sektor wisata, menurutnya harus disiapkan dengan sangat matang. Terlebih sektor ini memiliki potensi mendatangkan kerumunan orang.

SOP ini tak hanya dibahas oleh lintas organisasi pemerintah daerah (OPD). 

Pihaknya juga melibatkan asosiasi bidang wisata. Mulai dari PHRI, ASITA, forum destinasi wisata hingga organda. Adapula keterlibatan tim ahli pemerintah maupun instansi pendidikan. 

Poin-poin dalam SOP tak jauh berbeda dengan protokol Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pengunjung wajib pakai masker, penerapan physical distancing, pengecekan suhu tubuh.  Ada pula gerakan disiplin cuci tangan. 

“SOP akan menjadi acuan bagi wisatawan dan pengelola. Targetnya minggu depan sudah komunikasi dengan gugus tugas. Semoga awal Juni ini sudah selesai. Sudah dibahas sejak sebelum lebaran,” katanya.

Hingga kini jajarannya masih meraba konsep the new normal. Untuk selanjutnya terimplementasi dalam sebuah kebijakan. Inipula yang menjadi landasan dalam penyusunan SOP dan protokol operasional destinasi wisata, hotel dan restoran.

Beragam penataan fisik telah berlangsung. Seperti pembangunan fasilitas cuci tangan di sejumlah objek wisata. Dispar DIJ sendiri memberikan stimulus dalam pembangunan sarana prasarana. Khususnya yang terkait fasilitas Protokol Covid-19.

“Lalu piloting (objek wisata) mana yang akan dibuka. Destinasi yang jadi pilot project juga masih dibahas. Harus sinergi kabupaten kota. Lalu juga melibatkan pelaku UMKM di sekitar destinasi wisata,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Utama