RADAR JOGJA – Prosesi Hajad Dalem Garebeg Syawal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berlangsung berbeda. Tak ada tujuh gunungan yang dipanggul oleh para abdi dalem kanca abang. Seluruhnya berganti dengan 2700 tangkai ubarampe gunungan. Terangkai dalam bilah bambu layaknya tangkai bunga.

Putri Pertama Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 GKR Mangkubumi menuturkan prosesi ini menyesuaikan kondisi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tujuh gunungan digantikan dengan 2.700 tangkai ubarampe gunungan. Berupa rengginang dalam berbagai bentuk.

“Prosesinya doa bersama, lalu membagikan untuk Puro Pakualaman dan Kepatihan. Masing-masing dua rangkaian ubarampe. Lalu adapula untuk masing-masing tepas,” jelasnya ditemui di Keben Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Minggu (24/5).

Walau begitu peniadaan Garebeg bukan berarti menghilangkan esensi dan nilai kesakralan. GKR Mangkubumi menuturkan nilai budaya masih terpatri kuat. Hanya saja ada penyesuaian terkait kondisi pandemi Covid-19.

Pertimbangan utama adalah proses setelah hantaran gunungan. Berupa rayahan yang dilakukan oleh warga. Apabila tetap dengan gunungan tentu akan melanggar Protokol Covid-19.

Tak hanya Hajad Dalem Garebeg Syawal, beberapa prosesi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga ditiadakan. Mulai dari prosesi Numplak Wajik, Ngabekten, dan Ringgitan Bedhol Songsong juga tidak diselenggarakan. Tentunya atas pertimbangan pandemi Covid-19.

“Tidak mengurangi esensi nilai karena ini upacara adat. (Garebeg) Tidak mungkin diadakan tapi yang pakem tetap diselenggarakan. Hanya memang tidak dalam bentuk gunungan. Esensinya sama, sedekah Raja kepada kerabat dan rakyatnya,” katanya.

Upacara inti pada pembagian ubarampe tersebut serupa dengan prosesi garebeg yang umum dilaksanakan. Ubarampe gunungan akan terlebih dahulu dirangkai. Lalu diinapkan satu malam di Bangsal Srimanganti sejak Sabtu (23/5).

Prosesi hantaran juga tak seperti biasanya. Tak ada bregada yang mengawal gunungan. Begitupula sepasang gajah yang mengawal gunungan menuju Kadipaten Pakualaman. Hantaran dinaikan kendaraan roda empat jenis pickup.

Masing-masing hantaran dikawal oleh dua kendaraan roda empat. Terdepan adalah mobil patroli milik polisi. Sementara mobil kedua adalah kendaraan operasional milik Pemerintah Provinsi DIJ.

“Prosesi pemberangkatannya tetap di Bangsal Srimanganti. Didoakan oleh Abdi Dalem Kaji,” ujarnya. 

Sekretaris Provinsi (Sekprov) Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji tak mempermasalahkan perubahan prosesi Garebeg. Menurutnya cara ini justru sangat tepat di tengah pandemi Covid-19. Pihaknya juga menerapkan kebijakan serupa saat menerima ubarampe.

“Maknanya sama, ubarampe sebagai bagian simbolis menunjukan Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan tanda kasih kepada rakyatnya. Saya hanya mengundang ASN tidak ada masyarakat. Itupun terbatas tidak semua hadir. Sesuai protokol Covid-19,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama