RADAR JOGJA – Palang Merah Indonesia Daerah Istimewa Jogjakarta (PMI DIJ) menyalurkan bantuan kepada pasar tradisional di Jogjakarta. Sasarannya adalah pasar yang masih beroperasi selama pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pertimbangannya masih banyak pasar yang belum menerapkan protokol kesehatan.

Ketua PMI DIJ GBPH Prabukusumo berharap masyarakat lebih disiplin. Terutama dalam menerapkan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Tak hanya para pedagang tapi juga pembeli yang kerap mobilitas aktif.

“Faktanya di beberapa pasar kok masih penuh. Lebih parah lagi tidak menerapkan protokol kesehatan. Kunci penanganan di masyarakat. Merasa sakit hati, bahwa masyarakat itu seolah sakti keluar (rumah) terus, dikurangi lah kalau enggak penting,” tegasnya, ditemui di Kantor PMI DIJ, Senin (18/5).

Dia meminta agar pemerintah daerah bertindak tegas kepada warga yang nekat beraktivitas luar ruang. Terlebih jika tidak memiliki keperluan yang sifatnya penting.

“Aparat sendiri mau bertindak tegas tidak bisa. Jadi Pemda memang harus tegas. Sanksinya tidak harus pidana, cukup sanksi sosial atau wajib apel,” katanya.

PMI DIJ memberikan bantuan untuk Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten dan Kota. Terdiri dari 20 alat spraying, 480 bungkus cairan disinfektan, serta enam unit wastafel portabel. Seluruhnya difungsikan sebagai upaya pencegahan Covid-19.

Seluruh bantuan akan didistribusikan merata di beberapa pasar tradisional. Terutama yang memiliki mobilitas tinggi bagi penjual dan pembeli. Sehingga masyarakat bisa memanfaatkan usai berbelanja.

“Alat spraying dan wastafel portabel ini kami harapkan bisa membantu penerapan protokol kesehatan dengan membangun budaya hidup bersih dan sehat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ujarnya.

PMI DIJ juga memberikan dukungan peralatan pelayanan penanganan Covid-19 PMI kepada Kabupaten Kota. Berupa 75 pieces baju hazmat, 20 pieces pewangi pakaian, 1008 pieces cairan disinfektan dan 42 unit face shield.

“Kami juga rutin menggelar penyemprotan disinfektan. Total sudah 1.584 titik dengan jumlah penerima manfaat 396.932 orang. Adapula edukasi kesehatan di 244 titik dengan penerima manfaat 26.821 orang,” katanya.

Sekretaris Disperindag Pemkab Sleman Haris Martapa memastikan penerapan protokol kesehatan berlaku ketat di pasar tradisional. Hanya saja diakui olehnya pengawasan tidak bisa berjalan intens. Sehingga kerap muncul pelanggaran oleh penjual maupun pembeli.

Pemkab Sleman sendiri telah menerbitkan Surat Keputusan Bupati Sleman. Kaitannya adalah pemakaian wajib masker dalam aktivitas sehari-hari. Apabila terjadi pelanggaran maka ada jenis sanksi tertentu.

“Jadi masker dan cuci tangan itu wajib di Sleman. Apabila tidak pakai masker tidak boleh masuk pasar. Tapi kunci penanganan Covid-19 memang di warga, tanpa ada kesadaran diri tidak mungkin. Kalau terus cari celah tentu aturannya tidak berjalan optimal,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama