RADAR JOGJA – Klaster Indogrosir Mlati telah memasuki generasi 3. Dikuatkan dengan munculnya tiga kasus penularan ke keluarga atau orang terdekat. Detilnya adalah kasus 173, kasus 174 dan kasus 175. Ketiganya tertular langsung dari pasien berstatus karyawan Indogrosir Mlati.

Anggota Gugus Tugas Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) DIJ Riris Andono Ahmad menjelaskan rincian kajian. Kasus 173 dan kasus 175 memiliki riwayat kontak dengan karyawan Indogrosir. Sementara kasus 174 adalah anak dari karyawan Indogrosir.

“Betul kalau dilihat dari runutan muncul kasus sudah masuk generasi tiga. Jika dilihat dari kasus awal kasus 79. Lalu menulari rekan karyawan. Dari karyawan menulari keluarganya,” jelasnya, Rabu (13/5).

Gugus Tugas Covid-19 DIJ mencatat adanya 10 kasus baru klaster Indogrosir Mlati. Selain tiga kasus generasi tiga ada pula generasi dua. Seluruhnya tercatat sebagai karyawan pusat perbelanjaan itu. Terdiri dari kasus 176 lalu kasus 178 hingga kasus 183.

Detilnya, kasus 176, laki-laki berusia 29 tahun. Kasus 178, laki-laki berusia 45 tahun. Kasus 179, laki-laki berusia 25 tahun. Kasus 180, laki-laki berusia 31 tahun dan kasus 182, laki-laki berusia 35 tahun. Kelimanya tercatat sebagai warga Kabupaten Sleman. Kasus 181, pasien laki-laki berusia 54 tahun asal Kota Jogja. Kasus 183, perempuan berusia 23 tahun asal Gunungkidul.  

“Ini bukan peningkatan penularan. Peningkatan kasus terjadi karena adanya klaster kasus. Tapi secara umum laju penularan di Jogjakarta relatif masih sama,” katanya.

Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM ini mengakui penularan klaster Indogrosir telah meluas. Pada kasus tersebut perlu ada transisi strategi. Khususnya dari kontak tracing ke screening masal. Bisa pula kombinasi kedua strategi tersebut. 

Pakar epidemiologi UGM ini turut memberi saran kepada tim utama Gugus Tugas Covid-19 DIJ. Perlu peningkatan kapasitas diagnosis dan tata laksana kasus. Berupa peningkatan fasilitas karantina dan isolasi non medis.

“Mengingat cukup banyak kasus yang tidak bergejala atau bergejala ringan saja. Sehingga strategi itu perlu dilakukan,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Utama