RADAR JOGJA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) telah menyiapkan sejumlah skenario apabila ada lonjakan kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Salah satunya adalah mengoptimalkan fungsi RSPAU Hardjolukito. Rumah sakit ini memiliki sekitar 200 bed atau tempat tidur pasien.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menyatakan siap berkomunikasi dengan manajemen RSPAU Hardjolukito. Hanya saja pemanfaatan rumah sakit ini tetap menunggu kepastian laporan wilayah. Khususnya kapasitas rumah sakit rujukan di setiap kabupaten/kota.

“Prinsipnya RSPAU Hardjolukito bisa menampung 200 lebih. Tapi masalahnya tenaga medisnya dikirim ke Wisma Atlet Jakarta. Sehingga dari total tiga lantai hanya satu saja yang operasional,” jelasnya, ditemui di Komplek Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (12/5).

Para tenaga medis  RSPAU Hardjolukito mengalami penyusutan karena sebagian bertugas di Wisma Atlet. Walau begitu, rumah sakit milik TNI Angkatan Udara ini tetap beroperasi. Bahkan turut melayani kasus positif Covid-19.

Salah satu solusi adalah menerjunkan tenaga medis bantuan. Untuk selanjutnya bertugas siaga medis di RSPAU Hardjolukito. Terkait ketersediaan tenaga medis, jajarannya akan berembug dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota. Perannya adalah mengisi kekosongan tenaga medis di rumah sakit tersebut.

“Kami minta kepada para Bupati dan Wali Kota bisa tidak membantu dokter dan paramedis. Sebagai dasar bicara dengan rumah sakit Hardjolukito. Memang belum ada keputusan karena pertemuan dengan bupati baru besok (13/5). Harapannya besok dapat jawaban,” katanya.

Walau begitu Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini memastikan ketersediaan bed tetap mencukupi. Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19 DIJ, jumlah ruang isolasi terpakai mencapai 60 persen. Artinya masih ada 40 persen yang tersebar di seluruh rumah sakit rujukan Covid-19 se-DIJ.

Komunikasi juga terjalin dengan jajaran Polda DIJ. Kaitannya adalah pemanfaatan RS Bhayangkara sebagai isolasi terpusat bagi kasus Covid-19. Hanya saja pembicaraan tersebut belum meningkat sebagai rencana. Setidaknya RS Bhayangkara telah masuk dalam skenario penanganan Covid-19.

“Sebenarnya kapasitas saat ini tidak ada masalah. Hanya dari perkembangan klaster yang ada termasuk Indogrosir kemarin, Sleman takut ada kasus positif besar. Untuk antisipasi, dimungkinkan lantai dua dan tiga (RSPAU Hardjolukito) difungsikan,” ujarnya.

Sementara itu terkait ketersediaan rapid diagnose test (RDT) kit masih mencukupi. Gugus Tugas Covid-19 DIJ memiliki cadangan 3.000 RDT kit. Sementara untuk kabupaten kota setidaknya masih tersisa 1.000 RDT kit.

HB X mempersilahkan pemanfaatan RDT kit tersebut untuk screening. Salah satu contoh adalah pemetaan klaster Indogrosir Mlati. Diketahui bahwa karyawan pusat perbelanjaan ini tersebar di kabupaten kota Jogjakarta.

“Harapannya punya kabupaten kota dihabiskan dulu untuk rapid tes. Kami masih punya stok 3000 (RDT kit). Rapid tes massal lebih banyak lebih baik. Untuk memetakan Covid-19. Kalau stok PCR (Polymerase Chain Reaction) masih banyak. Tapi kan ini untuk swab,” katanya.(dwi/tif)

Jogja Utama