RADAR JOGJA – Cara warga Dusun Ngancar dan Josari, Desa Tridadi, Sleman, terhadap upaya pencegahan Covid-19 terbilang inovatif. Mereka menggunakan aplikasi scanner dan stiker barcode berbentuk QR untuk mendata warga asli. Ini dilakukan sebagai upaya mencegah pemudik dari zona merah masuk kampung.

IWAN NURWANRO, Sleman, Radar Jogja

Anggota Satgas Pencegahan Covid-19 Dusun Ngancar dan Josari Priyo Sasongko, 35 mengungkapkan, keluarnya inovasi stiker barcode ini sebagai salah satu cara mengidentifikasi penduduk asli. Sebab, pada awalnya anggota satgas cukup sulit membedakan kendaraan milik warga dengan pendatang. Meski akses dusun sudah dibuat satu jalur dan posko pengawasan telah didirikan.

Khawatir kecolongan, warga dua dusun itu kemudian mengembangkan stiker barcode untuk ditempelkan pada kendaraan milik penduduk setempat. Dengan adanya stiker itu, diakui Priyo, anggota satgas pun jadi lebih mudah melakukan pendataan. Karena para penjaga posko bisa melakukan scanning menggunakan aplikasi smartphone pada QR-code yang sudah tertempel di tiap kendaraan.

Priyo menyatakan, stiker barcode ini juga hanya boleh dimiliki oleh warga asli. Pembagiannya pun diawasi dan dilakukan oleh pengurus dusun. Sehingga bagi pendatang atau warga luar wilayah yang kendaraanya tidak ditempeli stiker, tentu akan sulit masuk ke wilayah dusun. Sebab, akan ada pengecekan oleh warga di satu-satunya akses jalan masuk dusun tersebut.

“Dengan barcode ini kami jadi lebih mudah mengidentifikasi mana warga asli dan pendatang. Jika kendaraannya memiliki stiker barcode, otomatis itu adalah warga kami. Sehingga tidak perlu kami tanya-tanyai,” jelasnya saat ditemui Radar Jogja Minggu (10/5).

Priyo mengungkapkan, inovasi stiker barcode yang sudah dibuat oleh warga dusunnya ini juga sebagai upaya mendukung kebijakan pemerintah terkait larangan mudik guna mencegah penularan Covid-19. Agar tidak semakin meluas di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di wilayahnya.

Inovasi stiker barcode sendiri sudah dijalankan warga desa selama dua minggu terkahir. Hingga saat ini, kata Priyo, terhitung sudah lebih dari 200 kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, milik warga dusun yang sudah tertempel stiker barcode tersebut.

“Jadi ini sebagai bentuk kesiapsiagaan warga kami terhadap ancaman Covid-19. Ke depan oleh warga rencananya sistem barcode ini juga akan lebih dikembangkan,” terangnya.

Selain memberlakukan identifikasi kendaraan melalui stiker barcode, berbagai cara dilakukan warga agar Covid-19 tidak masuk ke dua dusun itu. Anggota lain dari Satgas Pencegahan Covid-19 Dusun Ngancar dan Josari Edi Setyo Ramelan, 52, menambahkan, kesiapsiagaan warga terhadap pencegahan Covid-19 di wilayahnya sudah berjalan sejak dua bulan lalu.

Pihaknya juga memberlakukan wajib cuci tangan terhadap siapa pun orang ingin masuk dusun. Kendaraan yang dipakai pun wajib disemprot cairan pembersih supaya terhindar dari virus. “Ini kami lakukan karena kami tidak ingin kasus Covid-19 terjadi di wilayah kami,” terangnya. (laz)

Jogja Utama