RADAR JOGJA – Total kasus positif Covid-19 di DIJ kini menjadi 122 kasus. Ini menyusul adanya penambahan satu kasus kemarin (6/5). Kasus terbaru digolongkan sebagai klaster jamaah tablig di Kabupaten Sleman.
Kasus itu adalah kasus 124 dengan identitas laki-laki 39 tahun warga Kota Jogja. “Riwayat pasien pernah mengikuti jamaah di lokasi masjid klaster tablig Sleman,” jelas Juru Bicara Pemprov DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih kemarin (6/5).

Sejauh ini klaster jamaah tabligh di Sleman tercatat sudah memiliki 16 kasus terkonfirmasi positif virus korona. Klaster ini juga mencakup lima warga negara India yang dinyatakan positif.

Berty juga melaporkan lima kematian pada pasien dalam pengawasan (PDP). Yakni laki laki 77 tahun warga Sleman, perempuan 49 tahun warga Sleman, perempuan 63 tahun warga Kulonprogo, perempuan 68 tahun warga Kota Jogja, dan perempuan 56 tahun warga Kota Jogja.

Total PDP meninggal di DIJ sembilan pasien. Sebagian besar memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus, jantung, gagal ginjal dan stroke. Satu di antaranya belum sempat jalani tes usap atau swab. “Kalau hasilnya positif dimasukkan data pasien positif yang meninggal. Kalau negatif, masuk kasus negatif,” paparnya.

Adapun untuk pasien sembuh juga bertambah satu orang. Yakni pada kasus 68 dengan identitas laki-laki 27 tahun warga Sleman. Dengan demikian total pasien yang dinyatakan sembuh ada 53 kasus.

Terus Lacak Klaster Gereja dan Indogrosir

Kasus Covid-19 semakin melonjak di Kota Jogja, baik kasus pasien dalam pengawasan (PDP) maupun pasien konfirm positif. Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, kasus orang dalam pemantauan (ODP) mengalami penurunan (5/5) dari 103 menjadi 100 hingga 97. “Tapi PDP naik dari 13 menjadi 18 orang,” katanya kemarin (6/5).

HP menjelaskan, penambahan lima PDP kota ini dua di antaranya terpapar di tempat kerja dari temannya yang klaster gereja di Indogrosir Jalan Magelang. Selebihnya terpapar dari kunjungan tamu dari luar kota seperti Ciamis, Gunungkidul, dan Bantul.

“Melihat kasus itu maka kota sudah mulai ada transmisi lokal yang melibatkan masyarakat. Karena dari generasi pertama sudah sembuh dan berkembang di generasi kedua, satu di antaranya menularkannya di tempat kerja,” ujarnya.
HP menyebut kasus konfirm positif Covid-19 juga meningkat dari enam kasus menjadi 10 kasus. Di antaranya ada tambah enam konfirm positif, yang semuanya dari klaster gereja dengan riwayat dari pertemuan pendeta di Bogor, dilanjut pertemuan di Semarang, dan ketika di Jogja ada pertemuan juga. “Satu sempat masuk dalam perawatan karena konfirm positif Covid-19. Tapi sudah sembuh,” terangnya.

Oleh karena itu, dia menegaskan masyarakat harus semakin disiplin sosial dalam menerapkan protokol Covid-19. Sebab sebarannya sudah masuk dalam kontak fisik di tempat umum. Dan hasil dari tracing menunjukkan adanya paparan.

Dikatakan, disiplin protokol harus ditingkatkan lagi seperti tetap di rumah saja. Keluar ketika sangat terpaksa. “Saat ini belanja di pasar atau layanan toko jejaring sudah bisa dilakukan online. Jadi kita upayakan belanja keperluan sehari-hari bisa online,” tambahnya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Jogja Tri Mardaya mengatakan, penambahan lima PDP ada hubungannya dengan klaster Indogrosir. Maka proses tracing lebih lanjut sudah dilakukan untuk mengetahui sampai di mana kontak yang melibatkan warga lain. “Saat ini kami sedang melakukan tracing,” katanya.

Jika dari hasil tracing kemudian ditemukan kasus baru, maka alur selanjutnya akan dilakukan rapid test. Ketika hasilnya kemudian positif, akan dilakukan swab test. Terkait lima PDP itu ada di antaranya yang sudah dilakukan swab test. “Ini masih dalam proses. Kalau swab ternyata juga positif, langsung rawat inap,” jelasnya.

Oleh karena itu terkait rencana pemkot melakukan 2.000 rapid test tambahan, harus melalui alur tracing lebih dulu. Ini untuk mengetahui keterkaitan kontak satu dengan yang lainnya. Termasuk mengkoordinasikan dengan tiap wilayah berkaitan dengan klaster tertentu, apakah ada yang kemudian kontak hingga ke Kota Jogja. “Ini rapid test ada alurnya, tidak ngawur sembarang orang. Supaya kita juga mengetahui klaster dari mana saja,” ungkapnya. (tor/wia/laz)

Breaking News