RADAR JOGJA – Sekretaris Provinsi (Sekprov) Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menuturkan Jogjakarta tak menutup kemungkinan pengajuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Terlebih jika persebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) semakin masif. Hanya saja kebijakan ini tetap diimbangi dengan kajian dan pertimbangan matang. 

Saat ini perhatian Gugus Tugas Covid-19 DIJ terfokus di Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul. Ketiga wilayah ini menjadi wilayah persebaran tiga klaster besar Covid-19.

“Bisa saja tiga wilayah itu (tiga kabupaten) mengajukan PSBB. Tidak harus seluruh wilayah,” jelasnya ditemui Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (4/5).

Penerapan PSBB tak menutup kemungkinan berlangsung total. Arti total adalah pemberlakuan untuk seluruh wilayah administrasi DIJ. Termasuk wilayah administrasi lain yang tidak mengajukan PSBB.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ ini menjelaskan, PSBB lebih optimal apabila berlangsung di seluruh wilayah administrasi. Terlebih kabupaten/kota di Jogjakarta memiliki banyak pintu masuk di wilayah perbatasannya.

“Meski (PSBB) yang mengajukan tiga (kabupaten) tidak masalah. Nanti semua (wilayah) ikut. Dari sisi kewilayahan mau menjaga bagaimana, kalau enggak dibatasi. Orang jalan kaki ke Gunungkidul juga gampang,” katanya.

Walau begitu hingga saat ini Aji memastikan belum ada pengajuan skema PSBB. Termasuk oleh pimpinan wilayah kabupaten kota di Jogjakarta. Seluruhnya tetap bertahan dengan skema tanggap darurat Pemprov DIJ.

Salah satu acuan PSBB adalah anggaran pemerintah. Hingga saat ini dana realokasi milik Pemprov DIJ belum turun. Aji mengakui hingga detik ini pemerintah pusat belum mencairkan anggaran realokasi milik Pemprov DIJ.

“Keputusan PSBB tidak bisa dilakukan sepihak. Kabupaten kota harus bicara dalam Forkompinda. Tentang konsekuensi terhadap PSBB. Itu pun usulan belum tentu disetujui Kemenkes,” katanya.

Langkah antisipasi saat ini adalah penerapan protokol kesehatan. Mulai dari physical distancing, mengenakan masker hingga pola hidup bersih dan sehat. Setidaknya cara ini mampu menekan persebaran Covid-19.

Disatu sisi Aji menyayangkan masih adanya warga yang ngeyel. Terutama terlibat dalam kerumunan  di waktu dan tempat yang sama. Aksi inilah yang menjadi potensi persebaran Covid-19 menjadi tak terkendali.

“Termasuk kegiatan ibadah atau keagamaan yang sifatnya berjamaah. Nah untuk tiga klaster saat ini bawaan dari tempat lain ada dari Gowa, Jakarta dan Bogor. Lalu mereka pulang kesini atau membawa (Covid-19) dari sana,” ujarnya.(dwi/tif)

Jogja Utama