RADAR JOGJA – Pemberlakuan larangan mudik disikapi cerdik oleh para pemudik. Bukan untuk tetap tinggal, tapi menyiasati cara mudik. Tak lagi menggunakan moda transportasi publik. Mereka berkamuflase dalam kendaraan angkut barang yang tertutup terpal.

Kepala Satpol PP DIJ Noviar Rahmad menuturkan kejadian ditemukan di luar Jogjakarta. Rombongan memaksa mudik dalam angkutan barang.

“Ini yang kami waspadai. Pemudik lewat jalur alternatif ada modus baru. Pakai mobil bak terbuka yang ditutup terpal agar bisa masuk Jogja,” jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Rabu (29/4).

Ide ini muncul ketika beberapa wilayah memberlakukan pembatasan akses masuk. Termasuk Jogjakarta yang menjaga tiga pintu masuk utama. Alhasil jalan alternatif menjadi solusi untuk masuk wilayah Jogjakarta.

Noviar menegaskan penjagaan di tiga pintu masuk sangatlah ketat. Diantaranya Tempel, Prambanan dan Temon. Disisi lain dia mengakui adanya kelemahan untuk penjagaan jalur-jalur alternatif.

“Karena di perbatasan tiga wilayah sudah ada penutupan. Jadi mereka (pemudik) cari celah. Salah satunya ya lewat jalur alternatif ditambah kamuflase dengan kendaraan bak terbuka,” katanya.

Guna mengetatkan penjagaan Dishub DIJ berkoordinasi dengan Dishub Kabupaten untuk melakukan penjagaan di jalur alternatif. Termasuk mendirikan pos pemeriksaan di seluruh jalur alternatif.

“Berkoodinasi dengan Dishub kabupaten untuk dirikan check point di jalur alternatif. Seperti di Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul. Ini akan dilakukan penjagaan,” ujarnya.

Noviar mengungkapkan, ada penurunan angka pengguna transportasi publik. Salah satu acuannya adalah jumlah penumpang yang turun di terminal. Dari yang awalnya mencapai ratusan hingga ribuan pada hari normal menjadi puluhan.

Penurunan jumlah penumpang terjadi setelah sejumlah daerah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sementara untuk data pemudik tercatat mencapai 27 ribu. Adapula data kedatangan mencapai angka 90 ribu.

“Pemudik dua hari lalu ada 27 ribu sekian. Kalau kedatangan memang 90 ribu tapi hanya lewat bukan menetap (di Jogjakarta),” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama