RADAR JOGJA – Pasar Sore Kauman yang biasa digelar setiap Ramadan, tahun ini ditiadakan. Lokasi yang biasa digunakan untuk berjualan aneka jenis makanan dan minuman khas Ramadan itu kosong. Tak ada aktivitas transaksi jual beli di pasar yang sudah ada sejak 1970-an itu.

Namun, di Kampung Kauman masih banyak dijumpai penjual makanan dan minuman atau kerap disebut takjil dengan membuka lapak-lapan di beberapa lokasi. Termasuk di Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Kauman, dan sekitarnya.

Ya, Kampung Kauman memang dari dulu dikenal sebagai surganya “takjil” saat Ramadan. Banyak pedagang yang berjualan di wilayah tersebut. Di tambah lagi, di Kauman terdapat pasar tiban yaitu Pasar Sore Kauman yang menjajakan berbagai hidangan dari mulai jajanan tradisional hingga minum-muman segar pada saat sore hari jelang buka puasa Ramadan.

Tapi karena pandemi Covid-19, sejumlah pedagang yang biasanya membuka lapak di Pasar Sore Kauman memindahkan lokasi jualannya. Sigit misalnya. Dia mengaku, sudah sejak lama berjualan di pasar tiban itu. “Sudah sejak orang tua saya, sebelum banyak yang jualan. Dulu yang jualan hanya empat rumah, itu warga Kauman aja. Tidak seperti sekarang ini pasar tiban banyak penjualnya,” paparnya.

Tahun ini, dia tidak bisa berjualan di pasar tiban tersebut. Karena kebijakan dari pemerintah kota untuk meniadakan kegiatan atau aktivitas yang berkerumun.”Dari takmir Masjid Kauman, takjil buatan kami dibagikan ke warga,’’ jelasnya.

Selain itu, untuk aktivitas jual beli Sigit beralih berjualan melalui online saat Ramadan ini. Yakni, melalui media sosial WhatsApp. “Kami bikin buat pesenan saja. Sesuai dengan pesanan,” tutur Sigit.

Pedagang lain, Sugeng Purwanto juga memanfaatkan momen Ramadan untuk berjualan takjil. Di kesehariannya, sebenarnya dia berjualan gado-gado dan lotek. Tetapi setiap Ramadan dia beralih berjualan jajanan takjil. “Sementara di sulap dulu jadi jualan jajanan takjil,” ungkap Sugeng kepada Radar Jogja, Jumat (24/4).

Saat Ramadan, dia rutin selalu berjualan setiap pukul 15.00 saat Ramadan di Jalan Kauman. Kegiatan itu rutin dia lakukan sejak 1997. Menu yang dijual juga bermacam-macam seperti kicak, caranggesing, pis roti, kolak, mi kopyok, garang asem, koktail, stub jambu, jenang, lumpia, dan juga martabak. “Macam-macam, harganya juga bervariasi mulai Rp 3.000 hingga Rp 6.000,” imbuhnya.

Di tengah pagebluk korona ini, Sugeng berjualan berbeda dengan Ramadan tahun lalu. Untuk sementara jualannya akan dia kurangi. “Tahun kemarin setiap jenis buat 100 biji,  sekarang cuma 50 saja,” tutur Sugeng.

Yang menjadi jajan favorit warga, yakni kicak. Uniknya, kicak di Kauman makanan ini selalu ada saat Ramadan. Konon, makanan khas tersebut  dibuat oleh Mbah Wono pada 1950. Dulu, Mbah Wono selalu menjual makanan tersebut selama bulan Ramadhan saja. Dan dipertahankan hingga kini menjadi makanan khas saat Ramadan untuk warga Kauman.

Bagi yang belum tahu, kicak adalah makanan yang terbuat dari singkong parut atau beras ketan dan dimasak dengan cara dikukus. Kemudian, dicampur dengan masakan serut kelapa yang gurih. Aroma daun pandan dan buah nangka sangat mengguggah selera. Rasanya manis, gurih dan teksturnya lembut. Biasnya dibungkus dengan daun kelapa atau sekarang lebih modern dibungkus kecil-kecil pakai. Sangat cocok disantap saat berbuka puasa.(cr1/din)

Jogja Utama