RADAR JOGJA – Hasil kajian Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) menyebutkan telah terjadi local transmision di DIJ. Terdiri dari generasi 2 dan generasi 3. Total kasus local transmision untuk kedua generasi ini mencapai 15 kasus. Ada pula lima kasus yang tidak masuk kategori keduanya.

Anggota Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Covid-19 DIJ Riris Andono Ahmad mengamini fakta ini. Generasi 2 (G2) muncul setelah terjadi kontak dengan pasien kasus imported cases. Sementara generasi 3 (G3) muncul setelah kontak dengan pasien G2.

“Saat ini ada 75 kasus terkonfirmasi, sebanyak 71 sudah kontak tracing. Hasilnya 51 pasien adalah G1 (generasi 1). Dari 10 kasus G1 menularkan 12 kasus baru atau G2. Lalu dari G2 menularkan kepada tiga pasien baru atau G3,” jelasnya ditemui di Kantor BPBD DIJ, Rabu (22/4).

Analisa awal menyebutkan penularan G1 kepada G2 sifatnya terbatas. Ini karena hanya penularan terjadi dari pasien imported cases. Artinya penularan lokal pertama ini sifatnya belum terlalu masif dan menyebar.

Ahli Epidemiologi UGM ini juga memiliki analisa lainnya. Dari satu kasus kasus positif Covid-19 sejatinya bisa menularkan hingga dua atau tiga pasien. Hanya saja berdasarkan data grafis, hipotesis ini belum terlihat.

“Dari data grafis kemungkinan belum terlalu meluas, tapi dengan catatan memahami kondisi diagnosis kita. Melihat tracing dan kasus baru masih sedikit dari kasus sebelumnya,” katanya.

Di satu sisi ada lima kasus yang belum terlacak penularannya. Dalam data grafis, Riris menggolongkan kasus ini sebagai unknown. Dari total kasus tersebut dua diantaranya berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan pensiunan.

Profesi ini, lanjutnya, tidak memiliki mobilitas tinggi. Sehingga muncul hipotesis penularan terjadi di lingkungan rumah. Semakin menguatkan bahwa mobilisasi Covid-19 sudah tinggi.

“Ini mereka tidak mobilitas tinggi tapi bisa tertular entah darimana. Solusinya, perlu meningkatkan kontak tracing secara intens. RDT (rapid diagnose test) penggunaannya tidak untuk diagnosi tapi untuk melihat infeksinya. Diagnosis tetap PCR (Polymerase Chain Reaction),” ujarnya.

Berdasarkan hasil analisa, Riris menemukan adanya pola berbeda. Apabila mengacu pada satu kasus bisa menularkan dua hingga tiga kasus. Sementara untuk kasus Covid-19 belum terlihat pada arah analisa.

Proses transmisi atau penularan cenderung pelan. Terbukti dari kemunculan G2 dan G3 dengan angka yang masih kecil dibanding G1. Celah ini setidaknya bisa dimanfaatkan untuk meminimalisir persebaran Covid-19.

“Dari data jelas sudah ada transmisi lokal tapi belum meluas, tapi indikasi ke arah sana mulai terlihat. Kalau kemudian menjadi meluas ini jadi problem besar. Masih ada jendela membuat transmisi bisa dipotong,” katanya.

Salah satu solusi yang disarankan adalah isolasi. Tak hanya kepada pasien dalam pengawasan (PDP) tapi juga orang tanpa gejala (OTG) dan orang dalam pemantauan (ODP). Tujuannya untuk memperkecil ruang gerak Covid-19.

Riris mencontohkan kasus di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Screening Jakarta menyasar 24 ribu warga, sementara Jabar sebanyak 20 ribu warga. Hasilnya, RDT yang dinyatakan positif kisaran 2,5 hingga 3 persen.

“Kami berasumsi bahwa pola interaksi mempengaruhi pola kecepatan penularan. Intensifkan screening mandiri, pastikan ODP, OTG, PDP dipisahkan dari populasi. Lebih baik diisolasi, meski kapasita diagnosis terbatas, akan mengurangi resiko transmisi,” ujarnya.

Walau begitu penerapan skema ini juga tidak begitu saja memutus mata rantai Covid-19. Ini karena sebagian besar populasi masih bisa terinfeksi. Apabila tidak menutup mobilitas demi meminimalisir persebaran Covid-19.

“Hasil penelitian ilmuwan dari Harvard, social distancing bisa sampai 2022. Kajian ini cukup relevan, kecuali ada ditemukan vaksin yang efektif menyembuhkan,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama