RADAR JOGJA – Pegadaian menjadi salah satu alternatif masyarakat di tengah makin sulitnya perekonomian saat pandemi virus korona saat ini. Ini terlihat dari adanya peningkatan jumlah penggadai dalam beberapa pekan ini. “Secara umum meningkat. Meskipun baru sekitar 10 persen sejak akhir Maret lalu,” kata Kepala Departemen Gadai PT Pegadaian (Persero) Area Jogjakarta Munardi, Sabtu (18/4).

Dia menyebut, kenaikan ini salah satunya dipicu kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Munardi mengungkapkan, barang yang paling banyak digadai adalah emas perhiasan.

Sementara, untuk nongadai tidak mengalami kenaikan.  Kepala Departemen Non Gadai PT Pegadaian Area Jogjakarta Agus Purwadi menyampaikan, untuk saat ini yang naik hanya yang gadai. Untuk yang nongadai tidak, karena mengingat sistemnya adalah pembiayaan dan melalui survei.”Kami lebih selektif melakukan pencairan, sehingga pencairan mengalami penurunan,” tutur Agus.

Kepala Cabang Pegadaian Wates Eko Danarto menyampaikan, untuk jumlah pegadai di wilayah Wates memang mengalami kenaikan. Kenaikannya sekitar 10 persen hingga 11 persen. “Itu untuk yang gadai, bukan nongadai,” katanya saat dikonfirmasi Radar Jogja.

Eko mengatakan, kenaikan jumlah tersebut sudah mulai sejak Maret lalu. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yakni dapat dipicu karena sekarang harga taksir emas meningkat. “Yang dulunya Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu, sekarang bisa mencapai Rp 900 ribu. Otomatis nilai taksiran di pegadaiam juga naik,” ungkap Eko.

Selain itu, kondisi perekonomian sekarang sedang goyah karena korona. Sehingga, memungkinkan masyarakat butuh dana yang mendesak atau mendadak. “Sehingga mereka memutuskan untuk menggadaikan barang miliknya,” jelasnya.(cr1/din)

Jogja Utama