RADAR JOGJA  – Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X memastikan ketersediaan bed atau tempat tidur bagi pasien Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tercatat saat ini jumlah pasien dalam perawatan (PDP) mencapai 144 orang. Ada pula 35 pasien positif Covid-19 yang menjalani rawat isolasi. 

Berdasarkan data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ jumlah bed mencapai 243 unit. Fasilitas ini diperuntukkan bagi pasien non critical. Sementara untuk pasien critical mencapai 12 bed.

“Saya sudah ngecek ketersediaan bed masih 50 persen. Harapan saya enggak nambah lah (PDP maupun pasien positif Covid-19),” jelasnya, ditemui di Komplek Kepatihan Pemprov DIJ, Kamis (16/4).

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini juga memastikan ketersediaan Reagen atau primer tercukupi. Elemen ini sangatlah penting untuk uji swab bagi PDP. Juga untuk melakukan pengecekan ulang para pasien positif Covid-19 hingga dinyatakan sembuh.

“Reagen sampai minggu ini masih ada. Untuk laboratorium penguji sekarang sudah ada tiga, sehari bisa 300 (uji swab) kalau berfungsi maksimal.  Dengan jumlah PDP (saat ini) bisa hanya 2 hari selesai. Harapannya tak tambah,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ Pembajoen Setiyaning Astutie mengakui bahwa jumlah bed masih terisi 50 persen. Walau begitu pihaknya masih terus berkoordinasi terkait kemungkinan penambahan bed. Sebagai wujud preventif atas penanganan Covid-19.

Catatan Gugus Tugas Covid-19 DIJ menjabarkan adanya total 255 bed di seluruh rumah sakit rujukan. Detailnya adalah 243 bed bagi pasien non critical dan 12 bed untuk pasien kategori critical.

“Kapasitas ini tergantung peningkatan atau kecepatan menemukan kasusnya. Sampai hari ini di kabupaten kota RDT (Rapid Diagnose Test) segera dilakukan supaya pemetaan, agar bisa lebih optimal,” ujarnya.

Pembajoen mengakui kecepatan penerapan uji RDT belum optimal. Terbukti dari total sekitar 14 ribu RDT kit, jumlah laporan masih kisaran 1000. Artinya masih ada belasan laporan RDT yang tersampaikan ke Dinas Kesehatan DIJ.

Terkait penggunaan, Pembajoen tidak mempermasalahkan sebagai upaya screening. Terutama bagi orang dalam pengawasan (ODP) maupun orang tanpa gejala (OTG). Terutama warga pendatang yang berasal dari daerah terpapar.

“Sekarang ini masih fokus di tracing, padahal untuk screening juga bisa. Kalau ada ODP atau OTG untuk tahu positif (Covid-19) atau negatif itu kan perlu tes. Kalau RDT positif lanjut ke uji swab,” jelasnya.

Di satu m sisi Pembajoen meminta agar intas instansi di kabupaten kota berkoordinasi secara optimal. Terutama untuk mendeteksi para pendatang yang sudah kembali ke kampung halaman. 

Puskesmas, lanjutnya, tak bisa melakukan pemetaan secara mandiri.

“Ada warga datang, pemudik pulang dan pekerja imigran tentu catatannya di pemangku wilayah. Harus bersama, teman Dinkes pasti mendata tapi tidak bisa sendiri. Ayo to gek Ndang,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama