RADAR JOGJA – Umat Kristiani sedang menyambut datangnya hari Paskah untuk memperingati wafatnya Isa Al Masih. Namun kali ini berbeda. Mereka merayakan ibadah sakral tersebut harus dengan di rumah saja. Melalui streaming di YouTube.

Kebijakan pemerintah terkait adanya wabah korona, membuat kegiatan di luar rumah dibatasi. Kegiatan peribadatan juga harus dilakukan di rumah untuk menghindari kerumunan.

Keuskupan Agung Semarang juga telah mengimbau kepada para umat untuk melakukan ibadah di rumah. Ibadah harian dan mingguan di gereja ditiadakan hingga 30 April mendatang. Termasuk ibadah Paskah yang seharusnya dilakukan tiga hari ini yakni, ibadah Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah termasuk juga Minggu Paskah.

Cyrillus Yuniarto Purnomo bersama kedua orang tua dan kakaknya misalnya. Warga Dongkelan, Panggungharjo, Sewon, Bantul itu melakukan ibadah Jumat Agung bersama-sama di ruang keluarga. Mereka tampak khusyuk dan damai. Mereka melakukan streaming Youtube dari Gereja Katedral Jakarta menggunakan media televisi pada Jumat, (10/4) dari pukul 17.00.

Dia bersama keluarga bersuka cita menyambut datangnya Paskah. Sudah empat kali, mereka melakukan ibadah dengan media YouTube di rumah. Sejak Keuskupan Agung Semarang menyarankan.

Dia mengaku sedih. Sebab Paskah yang biasanya dilakukan di gereja bisa berkumpul dengan anggota keluarga yang lain, kali ini harus dijalankan dengan di rumah saja. “Biasanya persiapan untuk tiga hari ibadah Paskah di gereja sekarang di rumah,” ujar Yuniarto kepada Radar Jogja, Jumat (10/4).

Namun, di balik itu dia mengambil hikmah yakni bisa berkumpul dengan keluarga dan lebih lama bisa menghabiskan waktu dengan keluarga. “Mendukung anjuran pemerintah juga untuk tetap di rumah agar semua segera membaik,” harapnya.

Dia juga menyematkan doa khusus agar korona ini segera berakhir. Sehingga aktivitas segera kembali pulih dan normal seperti biasa. “Semoga segera membaik,” imbuh dia.

Meskipun hanya dilakukan di rumah, Yuniarto mengaku tetap khusuk dan ikhlas menjalankannya. Dia juga telah menyiapkan jaringan internet dan memastikannya lancar karena untuk ibadah. “Lebih ke hal teknis saja. Internet penting karena khusuk tidaknya ibadah juga dipengaruhi kelancaran internet,” ungkapnya.

Selain internet, dia juga menyiapkan lilin dan salip untuk melengkapi ibadahnya. “Tidak ada yang ribet. Paling mandi dan menggunakan baju yang layak seperti layaknya hendak pergi ke gereja,” tuturnya.

Meskipun di rumah, Yuniarto menyampaikan, ibadah rasanya tetap sama seperti saat di gereja. Hanya bedanya tempat saja antara umat dan romo berpisah lokasi. “Mungkin perbedaanya durasi, kalau online biasanya lebih cepat. Bisa dibilang disingkat,” papar Yuniarto.

Di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) di Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, pelaksanaan Jumat Agung dihelat secara privat. Umat dianjurkan untuk melakukan ibadah secara streaming yang disiarkan oleh Keuskupan Agung Semarang. Paroki Gereja Ganjuran mengikuti protokol Keuskupan Agung Semarang.
Kepala Paroki Gereja HKTY Ganjuran Romo FX Krisno Handoyo memimpin frather dan suster melaksanakan Jumat Agung secara privat. “Gereja Ganjuran tidak ada pengunjung,” ujar Romo Kris kemarin (10/4).

Romo Kris mengatakan, perayaan Jumat Agung meneguhkan jika Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya sendirian. Terlebih dalam menghadapi virus Covid-19. “Kita diajak bahwa penderitaan ini bukan akhir,” tuturnya.

Dijelaskan, Jumat Agung merupakan bukti kasih Tuhan kepada umatnya. Kasih mengajarkan untuk menjadi pribadi transformatif bermental pemenang dan tidak menyerah pada tantangan. Ada pandemi Covid-19 menjadi tantangan untuk mampu berjuang melawan dan tidak boleh lengah. “Kiranya Jumat Agung 2020 dapat membawa refleksi mendalam dan kesan bagi semuanya,” pesan Romo Kris.

Frater Gereja Ganjuran Dwi Hananto menjelaskan, gereja tidak melakukan streaming mandiri. Sebab Keuskupan Agung Semarang memiliki akses internet yang lebih baik. Umat yang tidak memiliki akses internet pun dapat mengikuti ibadah Keuskupan Agung Jakarta melalui siaran TVRI. “Jadi umat fokus dan kalau berdoa,” jelasnya.

Staf Sekretariat Gereja Ganjuran Bernadus Sariono mengatakan Gereja Ganjuran tidak melakukan kegiatan sejak 27 Maret lalau hingga 30 April mendatang. Keputusan tersebut mengikuti anjuran Keuskupan Agung Semarang dan surat edaran dari Dewan Paroki Ganjuran.

Gereja Ganjuran tetap melangsungkan kegiatan indisental. Ini terutama yang bersifat sosial. Namun, kegiatan tetap dibatasi, agar tidak terjadi kerumunan. “Contohnya membagikan bantuan, diberikan dan langsung pulang,” katanya.(cr1/cr2/din)

Breaking News