RADAR JOGJA – Kawasan Malioboro yang dikenal sebagai tempat yang tak pernah mati, semenjak pandemi korona terus sepi. Selain tidak adanya pengunjung, banyak toko dan pedagang kaki lima (PKL) yang juga tutup. Imbasnya, sampah di sana pun turun drastis.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Ekwanto menyampaikan, semenjak adanya korona masuk DIJ pengunjung Malioboro sepi. “Bahkan, hampir tidak ada,” ungkap Ekwanto kepada Radar Jogja, Rabu (8/4).

Bukan hanya pengunjung, para PKL (pedagang kaki lima) dan penjual lesehan berangsur-angsur tidak berani berjualan. “Sekarang hanya beberapa saja, kami tetap mengizinkan para PKL ataupun pedagang lain berjualan di sepanjang Malioboro,” jelasnya.

Dengan sepinya pengunjung tersebut, membuat permasalahan sampah di Malioboro berkurang. Sudah menjadi tak dapat dipungkiri bahwa sampah merupakan permasalahan klasik yang ada di Malioboro. “Sampah berkurang, dapat dikatakan tidak ada. Pengunjung saja sepi,” tuturnya.

Sepinya Malioboro tersebut, menurut Ekwanto membuat sampah berkurang 90 persen dari biasanya. “Biasanya itu bisa menghasilkan sampai dua truk per hari. Sekarang satu persen aja nyaris tidak ada,” jelas dia.

Meskipun begitu, pihaknya tetap rajin membersihkan Malioboro. Menyapu rutin tetap diadakan. “Kami juga tidak lupa menyemprotkan cairan disinfektan. Sudah sekitar tiga kali kami melakukan penyemprotan,” ungkapnya.

Ekwanto mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum membuat perencanaan terkait antisipasi untuk TPST Piyungan akan ditutup. Yang jelas pihaknya masih melihat untuk saat ini sumbangan sampah dari Malioboro yang masuk ke TPS tidak banyak. Mengingat sampah yang ada di Malioboro kini berkurang sangat banyak di tengah korona ini. (cr1/pra)

Jogja Utama