RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menyayangkan adanya diskriminasi kepada tenaga medis di Jogjakarta. Pernyataan ini dia sampaikan usai menerima perwakilan manajemen RSUP Sardjito. Selain membahas penanganan juga para tenaga medis yang berjibaku menangani Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini meminta masyarakat bertindak bijak. Menurutnya dokter hingga tenaga medis memiliki protokol tersendiri. Sehingga ada aturan baku usai menangani pasien Covid-19.

“Ini tadi membicarakan ada kecenderungan masyarakat itu tidak mau menerima perawat dan dokter. Pendapat saya tidak perlu berprasangka seperti itu, hakikatnya dokter, nurse, atau tenaga medis lain setelah melayani rumah skait biasanya sebelum sampai rumah pasti sudah bersih dari segala hal yang bersifat medis,” katanya, ditemui di Komplek Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (6/4).

Menurutnya, dokter atau tenaga medis rumah sakit tidak mungkin melanggar protokol tertinggi. Mengingat seluruhnya juga memiliki keluarga di rumah. Sehingga tetap ingin menjaga kesehatan keluarga dan lingkungannya.

“Tenaga medis kita itu sudah menyadari harus bersih sebelum pulang. Mereka juga tak ingin membahayakan keluarganya,” katanya.

Pelaksana Harian (PlH) Direktur Utama RSUP Sardjito Rukmono Siswishanto tak menampik adanya penolakan terhadap tenaga medis. Namun dia ingin polemik tersebut segera berakhir.

Beragam curhatan dia dapatkan dari tenaga medis. Mulai dari penolakan untuk kembali ke kos kontrakan. Ada pula penolakan pencucian pakaian milik perawat maupun tenaga medis.

RSUP Sardjito sendiri telah memberlakukan protokol ketat. Seluruh dokter, perawat maupun tenaga medis wajib membersihkan diri sebelum pulang. Selain itu juga mengganti pakaian dengan setelan baru.

“Sejak mulai ada Korona, muncul ketakutan. Sampai ada yang tidak boleh masuk kosnya. Ini tidak perlu karena (tenaga medis) itu kan juga punya keluarga. Tidak mungkin pulang dalam kondisi tidak bersih,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Utama