RADAR JOGJA – Program Gerakan Indonesia Sadar Adminduk (Gisa) 2020 disambut antusias masyakarat, tidak saja datang dari Kota Jogja, tapi juga luar kota. Mereka pun berbondong-bondong mendatangi Gedung Graha Pandawa, Kompleks Balaikota, Timoho, kemarin (20/2).
Pantauan Radar Jogja, banyak warga yang mengikuti program pemerintah pusat untuk merekam maupun mencetak Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik dan Kartu Identitas Anak (KIA) itu. Tak sedikit pula yang ingin terlayani dengan cepat dan segera. Akibatnya, sempat ada yang protes agar bisa dilayani cepat.
Salah seorang warga Bantul yang melakukan perubahan domisili ke Kota Jogja, Andri Purwadi, telah memegang surat keterangan sejak 23 Oktober 2019. Ia telah melalui proses pendaftaran online terlebih dulu, namun justru tidak mendapatkan nomor antrean. “Antreannya pada asal ngambil aja. Saya dapat tadi dari teman yang mengambil dua nomor antrean. Satunya dikasihkan saya, nomor 122 ini,” katanya.
Keluhan lain disampaikan tentang mekanisme pelayanannya yang agak kurang jelas. Tidak ada petunjuk alur bagi pemohon yang datang, sehingga dirasa membingungkan harus melalui alur mana yang leb iuh dulu. “Ya agak riwuh sih. Soalnya banyak sekali orang yang datang, tapi alurnya nggak jelas,” ungkap laki-laki 36 tahun itu.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Sisruwadi mengatakan, terkait permasalahan itu di luar prediksinya. Sebelumnya sudah diinformasikan bagi masyarakat yang ingin merekam dan mencetak agar mendaftarkan dulu lewat online. “Tapi kenyataannya banyak yang datang ke sini belum daftar lewat online,” katanya di sela acara yang dilaksanakan di seluruh Indonesia itu.
Protes terjadi karena dari pendaftaran online, ada masyarakat yang sudah datang lebih dulu sejak pagi. Namun pendaftar online belakangan tetapi datang belakangan, juga meminta dilayani pagi. Padahal, masyarakat yang sudah daftar sejak pagi itu belum datang. “Yang daftar belakangan kalau sudah datang pagi, itu yang menimbulkan perselisihan. Tapi tadi sudah kami antisipasi selanjutnya,” ujarnya.
Kabid Layanan Pendaftaran Penduduk Bram Prasetyo menambahkan, mekanisme sistem pelayanan sebelumnya mengandalkan online dan website Gisa. Namun di tengah perjalanan, pelaksanaan sistem itu tidak mendukung. Karena kemampuan ponsel masing-masing petugas dibandingkan banyaknya masyarakat yang mengantre. “Jadi proses online itu menjadi sedikit crowded, numpuk antreannya cukup panjang. Ditambah mereka yang belum melakukan pendaftaran online menambah proses crowded itu,” katanya.
Akhirnya diambil kebijakan bahwa sistem mekanisme pelaksanaan Gisa dikembalikan secara manual. Meskipun secara aplikasi juga berjalan untuk memastikan bahwa mereka yang datang bisa terlayani, diproses dan dicetak. “Bisa tunggu waktu proses cetaknya,” tandasnya.
Dalam pelaksanaan Gisa ini dijelaskan, memakai tiga alat cetak untuk KTP-el. Dua alat rekam KIA dari Bantul dan Provinsi DIJ. Dari setingan pertama cetak menggunakan verifikasi online kemudian beralih ke proses manual, sehingga perlu penyiapan ulang sistemnya.
Tidak serta merta semua alat yang sebelumnya disiapkan untuk online bisa digunakan untuk manual. “Maka dari yang disiapkan masih proses penyesuaian untuk ke manual. Tapi yang sudah biasa kami lakukan untuk cetak reguler, kami gunakan untuk optimalisasi itu,” tambahnya.
Acara yang digelar 20-21 Februari ini disiapkan 2.000 keping blanko KTP-el dan 4.000 blanko KIA. Kendati demikian, masyarakat masih bisa terlayani di luar kegiatan Gisa. Yaitu di 14 kecamatan se-Kota Jogja, baik masyarakat yang datang melakukan perekaman maupun pencetakan KTP-el.
Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, sekitar 315.000 lebih yang seharusnya sudah memiliki KTP, sebanyak 2.000-an di antaranya warga Kota Jogja belum melakukan perekaman. Sebenarnya upaya pemkot menjadikan nihil perekaman KTP sudah maksimal dilakukan.
Namun masih terdapat ribuan warga kota yang kesulitan dicari untuk segera perekaman. “Itu sudah dicari-cari Pak RT tidak ketemu. Tapi apakah mereka tidak tinggal di Jogja, tapi masih berpenduduk Jogja,” tanyanya. (wia/laz)

Jogja Utama