RADAR JOGJA – Guru mencabuli belasan siswi tingkat sekolah dasar (SD). Perbuatan keji itu dilakukan selama kurang lebih sebulan.
Guru mesum itu adalah Supardjianto, 48. Dia merupakan warga di Margomulyo, Seyegan, Sleman.
Guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) itu sudah diringkus jajaran Polres Sleman. Korbannya adalah belasan siswi yang duduk di kelas 6 SD. Pencabulan dilakukan berkali-kali.
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sleman Iptu Bowo Susilo menjelaskan, berdasar hasil pemeriksaan terhadap pelaku, ada 12 siswi yang menjadi korban. Mereka merupakan murid di salah satu SD negeri di Seyegan. “Oknum guru tersebut merupakan wali kelas 6 di SD tersebut,” ujarnya di Mapolres Sleman Selasa (7/1).
Tindakan cabul yang dilakukan Supardjianto terjadi sejak Juli 2019. Terakhir, perbuatan nista itu dilakukan Agustus 2019 saat kegiatan kemah di Mororejo, Tempel.
Aksi bejat Supardjianto baru terungkap setelah kemah dan dilaporkan pada 22 Agustus 2019. “Guru tersebut masuk ke tenda siswa perempuan dan meraba korban yang sedang tidur. Jadi, jika korban berani menceritakan akan diberikan nilai C dan dipastikan tidak lulus,” jelasnya.
Dari 12 siswi yang diduga menjadi korban, Bowo menjelaskan, siswi yang membuat laporan resmi sebanyak empat orang. Selain itu, dua orang lainnya dijadikan saksi. Pertimbangannya, kata dia, terkait psikologis anak.
Supardjianto ditetapkan menjadi tersangka sejak 8 Desember 2019. Selanjutnya, pelaku dipanggil dan dilakukan penahanan. Dia tak berkutik.
Bowo mengakui, proses pemeriksaan terhadap Supardjianto berlangsung lama. Sebab, pihaknya harus melengkapi alat bukti dan melakukan pendampingan terhadap korban. Selain itu, masih harus dilakukan visum psikiatrikum terhadap empat orang korban.
Pencabulan itu, kata Bowo, pertama kali dilakukan saat jam belajar. Satu per satu korban dipanggil ke ruang unit kesehatan sekolah (UKS). Guru tersebut berdalih akan mengajarkan mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) dengan tema sistem reproduksi. Kemudian, guru tersebut melancarkan aksinya dengan meraba bagian dada hingga alat vital.
Supardjianto mengancam korban agar tidak menceritakan perbuatan yang dilakukan. Dia mengancam tidak meluluskan korban atau memberikan nilai C. Kejadian itu berulang ke siswi yang lainnya. “Baik di UKS dan perkemahan, diduga korban yang sama,” bebernya.
Supardjianto yang sudah memiliki istri dan anak itu masih sempat mengajar. Hingga sekitar September 2019, dia tidak lagi mengajar. “Karena korban ini setiap kali melihat pelaku trauma, takut, dan cemas,” ungkapnya.
Saat ini Polres Sleman telah menyusun dan melengkapi semua berkas. Targetnya bulan ini seluruh berkas bisa dinyatakan lengkap atau P21 dan segera dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Sleman.
Atas perbuatannya, Supardjianto diancam hukuman berat. Sesuai pasal 82 ayat 1 dan 2 UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumnya penjara minimal lima tahun dan maksimal lima belas tahun. “Tapi, karena dia (pelaku) PNS maka hukumannya ditambah sepertiga hukuman atau ditambah lima tahun,” katanya. (har/dwi/amd)

Hukum Kriminal