RADAR JOGJA – Akhir tahun ini alun-alun utara Jogjakarta tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Tak ada lagi Pasar Malam Perayaan Sekaten. Tidak ada lagi kebisingan tong setan, awul-awul dan sebagainya.

Namun Hajad Dalem Sekaten tahun 2019 tetap digelar tahun ini. Seperti “dawuh” atau perintah Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat  Sri Sultan HB X, mengingatkan kembali inti dan pokok dari sekaten, bahwa bukan pasar malam. rangkaian kegiatan Sekaten yang dihelat mulai 1 hingga 9 November ini lebih fokus pada acara yang berkaitan dengan sejarah raja pertama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB I.

GKR Bendara selaku wakil ketua panitia menjelaskan, Hajad Dalem Sekaren hadir dengan konsep yang baru. Berupa pameran Sekaten yang bertema cerita biografi kehidupan, perjuangan serta peninggalan sejarah Sri Sultan HB I. Pihak Keraton mencoba meng-upgrade Sekaten yang selama 30 tahun terakhir tidak berubah. “Meski pengunjung (pasar malam) Sekaten banyak yang datang, tidak ada informasi lebih yang bisa mereka peroleh dari kegiatan tersebut,” ujarnya di sela pembukaan pameran, Jumat (1/11).

Karenanya tahun ini, pihak Keraton mendedikasikan Pameran Sekaten sebagai salah satu kegiatan utama dalam rangkaian Sekaten. 

Diharapkan dengan memajang berbagai manuskrip dan benda-benda bersejarah dari Sri Sultan HB I, masyarakat dan pengunjung Sekaten akan mendapatkan nilai lebih dari hajad dalem tahunan ini.

Yang menarik, ada dua masterpiece peninggalan Sri Sultan HB I yang hanya bisa dilihat satu hari saja saat pembukaan Sekaten. Yakni manuskrip Babad Ngayogyakarta serta Kanjen Kyai Tandhu Lawak. Yang tak kalah bersejarah adalah naskah Perjanjian Giyanti yang menjadi awal pembagian Kerajaan Mataram menjadi Jogjakarta dan Surakarta.

Manuskrip Babad Ngogyakarta berisi tentang beragam biografi dan filosofi kehidupan Sultan HB I yang ditulis pasca wafat. Sementara Kanjeng Kyai Tandhu Lawak merupakan tandu yang digunakan Sultan HB I sebagai kendaraan saat usia senjanya. Tandu yang mengantarkan Sultan menuju Kagungan Dalem Masjid Gedhe. Untuk mengusung tandu tersebut, butuh tenaga dari delapan orang abdi dalem.

“Kalau tahun ini kami memamerkan tentang kehidupan Sri Sultan HB I, tahun depan ganti dengan tema Sri Sultan HB II,” tandas Bendara. (sky/tif)

Jogja Utama