JOGJA – Awalnya merupakan bagian dari aliran sungai yang kumuh, kotor, banyak sampah, dan bau menyengat. Tapi kini saluran air yang kumuh itu kemudian berubah menjadi obyek wisata. Warga setempat memberikan nama Bendung Lepen Mricanyouth Kali Gajah Wong. Terletak di Kampung Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Jogja.

Tepat berada di sisi selatan Kota Jogja, yang berbatasan dengan wilayah Bantul, muncul obyek wisata baru. Yang terletak di saluran irigasi pinggir sungai. Jangan berfikir sungai di sana, seperti sungai-sungai lainnya yang tercemar. Saluran air di sana banyak ikan dan tempat untuk bersantai.

Itulah sekilas gambaran Bendung Lepen Mricanyouth Kali Gajah Wong. Obyek wisata baru itu diinisiasi oleh Mrican Youth atau lebih tepatnya Komunitas Bendung Lepen yang merupakan pemuda-pemudi karangtaruna Kampung Mrican. Muda-mudi setempat sukses ubah sungai jadi lokasi wisata unik, sungai dimanfaatkan sebagai kolam ikan dan taman bermain.

“Tiap sore anak-anak bermain disini sambil momong terus kasih makan ikan,” ujar Ketua Komunitas Bendung Lepen Mricanyouth, Andhy Noor Wijanarko Minggu (18/8).

Itu karena untuk memanfaatkan ekosistem yang ada, komunitas menyebar sebanyak 124 kilogram (kg) benih ikan nila. Muali dari ukuran 5-7 sentimenter disebar ke Bendung Lepen.

Salah satu anggota komunitas, Agus Susilo menambahkan, disediakan setiap harinya sebanyak 10 kg pakan ikan nila atau pellet. Itu bagi pengunjung yang datang, terutama anak-anak yang akan memberi pakan. Dibandrol pakan ikan itu Rp 2.000 per cupnya. Hal ini juga guna mengedukasi anak-anak atau generasi muda agar menjaga ekosistem yang ada dan tidak membuang sampah sembarangan di sungai.

“Banyak anak-anak yang antusias beli pakan untuk ngasih makan ikan, biasanya tiap sore orangtuanya itu sambil momong anaknya dengan hiburan melihat ikan,” tuturnya.

Dia menyebut Bendhung Lepen Taman Wisata Gajah Wong itu kemudian berhasil menumbuhkan perekonomian warga sekitar. Ada penambahan dua warung kelontong disekitar taman wisata disana baru-baru ini didirikan sebelumnya hanya satu warung karena selain ada kolam ikan juga Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) di sana.

Bagaimana muda-mudi tergerak untuk mengubah kondisi di sana? Andhy menjelaskan, awalnya muda-mudi melakukan perencanaan sejak 2015 silam. Namun baru bisa terlaksana sejak Mei tahun ini. Mereka melakukan pembersihan lumpur irigasi di Bendung tersebut, bertahap dari 50 sampai dengan 70 meter.

“Karena dulu kumuh dan kita makan dari irigasi itu, jadi kita punya ide untuk membersihkan,” katanya.

Kondisinya Bendung Lepen itu, lanjut dia, sebelumnya banyak lumpur dari limbah saluran jalan Kota yang hampir menutup saluran irigasi dengan tebal 50 sentimeter. Bahkan kian hari semakin kotor dan banyak sampah. Dampaknya juga dirasakan langsung warga. Terutama ketika musim hujan air meluap ke sekitar rumah warga dan bau menyengat. Akibat dari itu muncul berbagai penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DB) dan diare. Kemudian para pemuda itu menginisiasi untuk membuat jaring sampah

“Sebenarnya inti pertama taman bendung lepen cuma pembersihan sampah dari saluran irigasi tapi trus teman-teman punya pengembangan kreatifitas akhirnya jadi seprti itu,” jelasnya bangga.

Salah satu pengunjung, Slamet Atun yang sedang momong anaknya di Bendhung Lepen itu mengungkapkan senang karena ada tempat baru untuk bermain dan hiburan anak.

“Dulu kumuh di sini, sekarang bersih seperti ini senang lah karena bisa untuk hiburan anak,” ungkapnya.

Andhy pun mengharapkan agar warga sekitar bisa memiliki kesadaran tidak membuang limbah atau sampah sembarangan di Bendhungan yang sekarang sudah bersih dan rapi.

“Ini demi kesehatan dan kenyamanan bersama, jagalah yang sudah ada saat ini jangan merusak,” pesannya. (**/cr15/pra/zl)

Jogja Utama