JOGJA – Menggunakan pakaian peranakan, dua pejabat daerah, Sekprov DIJ Gatot Saptadi dan Ketua Parampara Praja Prof Mahfud MD ikut berebut gunungan dari Keraton Jogja. Gunungan tersebut merupakan gunungan kakung yang diperebutkan di Bangsal Kepatihan Senin (12/8).

Gunungan kakung berisi hasil bumi berupa sayur-sayuran. Tidak sampai lima menit, gunungan tersebut ludes diburu masyarakat yang hadir. Grebeg menjadi ritual rutin tahunan Keraton Jogja. Termasuk, saat Hari Raya Idul Adha 1440 H.

Dalam upacara ini, terdapat tujuh buah gunungan yang dikeluarkan. Empat gunungan yakni Gunungan Kakung, Gunungan Estri, Gunungan Darat dan Gunungan Pawuhan akan dibagikan ke Masjid Gedhe Kauman. Gunungan Gephak dibagikan di Pendopo Kawedanan Pengulon Mesjid Gedhe Kauman. Sementara dua gunungan Kakung dibagikan ke Pura Pakualaman dan Kepatihan.

Mahfud MD mengaku beruntung mengikuti tradisi unik yang juga mencerminkan keaneragaman budaya di Tanah Air. Apalagi, kegiatan grebeg merupakan tradisi leluhur yang dilakukan sejak turun temurun.

Menurut dia, grebegan merupakan upacara keagamaan yang berbasis budaya Islam. Tradisi tersebut, dilaksanakan di Jogjakarta dan juga Solo. ”Ini menandakan Islam itu bisa berada di mana-mana termasuk Keraton,” kata Mahfud.

Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila itu menambahkan, keberadaan grebegan menunjukkan bahwa Islam bisa berakulturasi dengan kebutuhan lokal. Sehingga, Islam itu bisa berakulturasi dengan pakaian ala tradisional Jogjkarta maupun modernitas. “Berislam itu tidak harus pakai baju koko. Karena (baju) koko juga berasal dari Tiongkok,” jelasnya.

Pria asal Madura itu melihat Islam berkembang dengan baik di Jogjakarta. Selain itu, Islam juga sudah dilaksanakan syariat-syariatnya oleh penduduk dan dikombinasikan dalam variasi tampilannya tanpa menghilangkan akidah keislaman dalam keseharian. “Itulah indahnya Bhineka Tunggal Ika. Itu juga indahnya Islam sebagai rahmat untuk alam mana saja,” katanya. (bhn/pra/by)

Jogja Utama