JOGJA – Pemprov DIJ sukses mendorong munculnya start-up baru. Hanya, pekerjaan rumah besar juga menanti pemprov. Sebab, jumlah start-up yang gagal hampir menyentuh angka 90 persen.

Menurut Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIJ Trisaktiana, ada dua faktor utama penyebab tingginya tingkat kegagalan start-up. Yakni, pengembangan segmen pasar dan jaringan.

”Mereka (start-up, Red) belum memiliki kemampuan itu,” jelas Trisakti, sapaan Trisaktiana Kamis (8/8).

Ada 60 ribu start-up di DIJ. Bidang usaha yang dibidik bervariasi. Mereka bisa mencapai level start-up lantaran mencari modal usaha tak lagi sulit.

Birokrat yang pernah menjabat kepala Bappeda Bantul ini mengklaim, ada berbagai program yang digulirkan pemprov maupun pemerintah pusat untuk membantu permodalan start-up. Mulai hibah, pinjaman bergulir, kredit usaha rakyat, hingga kredit komersial.

Sementara itu, pertumbuhan entrepreneur baru di Indonesia pada 2019 lebih dari 3,1 persen. Capaian ini mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Kendati begitu, capaian pertumbuhan ini masih kalah telak dibanding Malaysia dan Singapura. Pertumbuhan entrepreneur di dua negara tetangga itu menyentuh 17 persen.

Karena itu, pemerintah pusat terus mendorong tumbuhnya start-up baru. Salah satunya dengan melakukan penguatan usaha.

”Penguatan diberikan mulai dari sisi produksi, akses pembiayaan, akses pasar dan sebagainya,” jelas Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menegah Yuana Sutyowati.

Dijelaskan, sejak 2011 hingga 2018 kementerian membagikan dana hibah kepada 20.382 wirausaha pemula. Harapannya, keberadaan mereka bisa meningkatkan produktivitas dan daya saing di kancah global.

”Tahun ini ada 2.500 wirausaha pemula yang diberikan dana hibah. Masing-masing Rp 10 juta hingga Rp 12 juta,” sebutnya.

Dana hibah itu, kata Yuana, diberikan karena tidak semua pelaku usaha mikro kecil dan menengah bankable. Padahal, permodalan merupakan faktor penting pengembangan usaha.

”Makanya bantuan dana hibah menjadi solusi,” tambahnya. (bhn/zam/rg)

Jogja Utama